Jika…

Jika hari ini adalah hari terakhirku …

Bagaimana dengan ibadahku?

Sudah sempurna kah wudu ku? Bagaimana dengan air yang membasuh pergelangan tangan, mulut-hidung, muka, tangan, kepala-telinga, dan kaki ku? Sudah kah air tersebut mengalir dengan tepat? tepat pada batas-batasnya? atau hanya sekadar basah dan entah tau maknanya.

Sudah sempurna kah salat ku? Sudah sempurna kah rukun-rukun yang kujalankan? Bagaimana dengan makna dalam tiap bacaannya? Sudah kah aku paham? atau sekadar hafal? Lebih-lebih bagaimana dengan niatnya? Benarkah untuk tunduk, bersujud, memohon kepada Allah? atau sekadar melepaskan tanggung jawab?

Bagaimana pula dengan ilmu yang aku punya?

Sudah diamalkan dengan baik? Atau sekadar bersemayam dalam gelar yang tidak pula dibawa mati? Atau digunakan dengan kesombongan? Meraup harta atau tahta yang tak diridai Allah?

Ibu – Ayah ku?

Sudah kah aku mendoakan mereka dalam tiap sujud? Sudah kah aku membahagiakan mereka? atau sekadar tidak memberatkan mereka? Adakah aku teringat mereka dalam bahagia? atau hanya dalam tiap duka dan menyalahkan takdir yang menjadikan aku sebagai anak mereka? Sudah kah aku rutin salim tangan mereka tiap berangkat maupun pulang berkegiatan? atau sekadar bertanya kabar saat berjauh-jauhan?

Kepada Keluarga besar – Sahabat – Tetangga

Sudah kah aku bersikap toleran? atau hanya mementingkan ego sendiri? Sudah kah mendoakan mereka walau jarang bertemu? Bagaimana dengan hutang dan janji-janji? Sudah kah diangsur atau ditepati?

Jika hari ini adalah hari terakhirku …

Apa yang akan aku bawa?

amal salih atau membenamkan diri bersama seluruh harta benda yang mati-matian diperjuangkan selama hidup?

amal salih atau menguburkan diri beramai-ramai keluarga? Adakah yang mau?

amal salih atau ratusan sertifikat pendidikan dan dedikasi selama hidup yang tidak disertai rida Allah?

Apa yang akan aku tinggalkan?

amal salih atau hutang piutang?

amal salih atau dendam?

amal salih atau kebencian?

amal salih atau tidak ada sama sekali?

Jika hari ini adalah hari terakhirku …

Ilahii lastu lil fidausi ahlan, wa laa aq wa ‘alan naaril jahiimi

Fahab li taubatan wagh fir dzunuubi, faa innaka ghoofiruz dzambil ‘adziimi

 

 

Iklan

Wanita baik

Wahai diri,

jadilah wanita baik. Yang benar-benar baik, bukan karena begitu-begini.

Jadilah wanita baik.

Yang ucapannya baik. Wanita baik itu lemah lembut, kata-katanya nenangin, sekalipun becanda, gak sampe ngelukain.

Jadilah wanita baik.

Yang sikapnya baik. Wanita baik itu tau batasan. Yang dapat memaksimalkan dirinya menjadi manfaat buat orang banyak.

Yang pikirannya baik. Wanita baik itu berpikiran positif. Yang gak gampang kesinggung. Yang pikirannya menjadi solusi.

Jadilah wanita baik. Yang benar-benar baik. Yang gak suka ngeluh, karena lemah lembut bukan berarti gak mampu ngapa-ngapain, kan? Wanita baik itu yang tau kekurangannya, tapi gak buka-bukaan urusan “dapur”nya. Wanita baik itu yang mampu meleburkan kelebihannya menjadi kebaikan buat orang lain.

Yang jelas lagi, wanita baik itu yang gak suka ghibah.

Bersinar

Kepada Perempuan, jangan jadi seperti rembulan yang sinarnya dinikmati semua orang, tapi jadilah mentari yang sinarnya mampu menundukkan pandangan. @medislam

Wahai Ukhti salihah,

cantikmu bukan untuk dinikmati, hingga menimbulkan hasrat tak terkendali. Kecantikanmu untuk dihargai, menundukkan pandangan mata hati.

Bersinarlah, Ukhti seperti sinarnya mentari.

Yang bersinar menghangatkan.

Yang sinarnya menjadi manfaat untuk bulan yang gelap.

Bersinarlah!

dengan tuturmu yang santun

dengan akhlakmu yang mulia

dengan pikiranmu yang bijaksana

Bawa Aku, Ayah

Ayah, aku lelah jadi dewasa.

Lelah kecewa dan mengecewakan. Lelah berkomitmen, lalu diingkari, hanya karna ada sesuatu yang harus didahului.

Betapa aku sendu, mengingat masa kecil itu. Bermain saja sepuasnya tanpa takut tersakiti. Pulangkan aku pada kenangan masa lalu, yang di dalamnya tidak banyak dihuni rasa sakit, meski goresan-goresan luka bersarang di lutut dan kedua sikuku.

Bawa aku bersenang-senang, Ayah. Bawa lagi aku pada senyum tanpa luka.