Lelaki Hebat

Aku menemui banyak laki-laki menarik.

Laki-laki yang profesional dalam bekerja. Bertanggung jawab, jujur dan tidak pernah bernegosiasi demi jabatannya. Laki-laki yang kerja tepat waktu, siang – malam tekun menyelesaikan tugasnya. Tidak sekadar untuk mendapatkan penghargaan ataupun bonus sampingan, tapi bekerja soal ibadah, katanya.

Laki-laki yang mengutamakan ibadahnya. Mengaji bukan diwaktu senggang, tapi yang sengaja menyediakan waktu untuk mengaji. Salat tepat waktu, ia tutup buku-buku dan laptopnya seketika saat azan berkumandang. Laki-laki masa kini yang merawat janggut dan celana cingkrangnya. Laki-laki yang segala aktivitasnya tak lepas dari kata bismillah.

Laki-laki pemikir. “Tiada kata terlambat untuk belajar”, tukasnya. Dia yang gemar membaca, berdiskusi, mencari hal-hal baru, dan kemudian menciptakannya. Laki-laki yang waktunya sangat bermanfaat, ada saja yang ia cari untuk memenuhi isi kepalanya. Laki-laki yang berprinsip seperti pepatah, “tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina”, S1, S2, S3, Profesor, bahkan tak peduli bergelar atau tidak, ia tetap gigih mencari dan mempelajari ilmu-ilmu baru.

Mereka luar biasa, mereka laki-laki menarik. Namun akan ada laki-laki terhebat di antaranya.

Iya, laki-laki terhebat, menurutku;

Ia yang berani melamar. Mengapa terhebat? karena aku yakin, sebelum ia meyakinkan seorang wanita dan keluarganya, tentulah entah dua tiga kali ia bergelut dengan keyakiannya, “benarkah aku mencintainya?”, “ini suka atau benar-benar cinta?”, “apa yang sudah aku persiapkan untuknya, untuk kami nantinya?”, “dan bagaimana cara meyakinkannya?”. Kurang lebih seperti itu.

Laki-laki yang memperjuangkanmu tapi belum melamarmu, maka perjuangannya belum penuh.

Bagaimana tidak, dari Anas bin Malik, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka bertaqwalah kepada Allah pada setengah sisanya”.

Luar biasa, bukan? Karena menikah bukan perkara mudah, namun bukan pula sesuatu yang perlu dipersulit. Menikah butuh keyakinan, yakin sama Allah akan diberikan kemudahan-kemudahan, dilindungi dari segala yang buruk, dan lainnya. Menikah butuh tanggung jawab, karena ijab qabul bukan sekadar kata yang dihafal dan dilantangkan, tapi pun perjanjian kepada Allah. Menikah butuh ilmu, karena hakikat menikah adalah untuk saling menuntun menuju rida Allah.

Berat memang bayangannya, hanya mampu dilakukan oleh laki-laki hebat. Ah! tapi laki-laki jangan jadikan ini alasan, karena ketika sesuatu dimulai karena Allah, insya’Allah, Allah pun akan selalu menolongnya.

Untuk laki-laki hebatku, menurut Allah.

Yok! bismillah…

Iklan

Jika…

Jika hari ini adalah hari terakhirku …

Bagaimana dengan ibadahku?

Sudah sempurna kah wudu ku? Bagaimana dengan air yang membasuh pergelangan tangan, mulut-hidung, muka, tangan, kepala-telinga, dan kaki ku? Sudah kah air tersebut mengalir dengan tepat? tepat pada batas-batasnya? atau hanya sekadar basah dan entah tau maknanya.

Sudah sempurna kah salat ku? Sudah sempurna kah rukun-rukun yang kujalankan? Bagaimana dengan makna dalam tiap bacaannya? Sudah kah aku paham? atau sekadar hafal? Lebih-lebih bagaimana dengan niatnya? Benarkah untuk tunduk, bersujud, memohon kepada Allah? atau sekadar melepaskan tanggung jawab?

Bagaimana pula dengan ilmu yang aku punya?

Sudah diamalkan dengan baik? Atau sekadar bersemayam dalam gelar yang tidak pula dibawa mati? Atau digunakan dengan kesombongan? Meraup harta atau tahta yang tak diridai Allah?

Ibu – Ayah ku?

Sudah kah aku mendoakan mereka dalam tiap sujud? Sudah kah aku membahagiakan mereka? atau sekadar tidak memberatkan mereka? Adakah aku teringat mereka dalam bahagia? atau hanya dalam tiap duka dan menyalahkan takdir yang menjadikan aku sebagai anak mereka? Sudah kah aku rutin salim tangan mereka tiap berangkat maupun pulang berkegiatan? atau sekadar bertanya kabar saat berjauh-jauhan?

Kepada Keluarga besar – Sahabat – Tetangga

Sudah kah aku bersikap toleran? atau hanya mementingkan ego sendiri? Sudah kah mendoakan mereka walau jarang bertemu? Bagaimana dengan hutang dan janji-janji? Sudah kah diangsur atau ditepati?

Jika hari ini adalah hari terakhirku …

Apa yang akan aku bawa?

amal salih atau membenamkan diri bersama seluruh harta benda yang mati-matian diperjuangkan selama hidup?

amal salih atau menguburkan diri beramai-ramai keluarga? Adakah yang mau?

amal salih atau ratusan sertifikat pendidikan dan dedikasi selama hidup yang tidak disertai rida Allah?

Apa yang akan aku tinggalkan?

amal salih atau hutang piutang?

amal salih atau dendam?

amal salih atau kebencian?

amal salih atau tidak ada sama sekali?

Jika hari ini adalah hari terakhirku …

Ilahii lastu lil fidausi ahlan, wa laa aq wa ‘alan naaril jahiimi

Fahab li taubatan wagh fir dzunuubi, faa innaka ghoofiruz dzambil ‘adziimi

 

 

Bersinar

Kepada Perempuan, jangan jadi seperti rembulan yang sinarnya dinikmati semua orang, tapi jadilah mentari yang sinarnya mampu menundukkan pandangan. @medislam

Wahai Ukhti salihah,

cantikmu bukan untuk dinikmati, hingga menimbulkan hasrat tak terkendali. Kecantikanmu untuk dihargai, menundukkan pandangan mata hati.

Bersinarlah, Ukhti seperti sinarnya mentari.

Yang bersinar menghangatkan.

Yang sinarnya menjadi manfaat untuk bulan yang gelap.

Bersinarlah!

dengan tuturmu yang santun

dengan akhlakmu yang mulia

dengan pikiranmu yang bijaksana