Takut, Sayang

Aku menyayangi seseorang, hingga takut.

Takut ditinggalkan, takut kehilangan, takut tidak diacuhkan, takut sakit, takut sedih. Aku menjadi manusia yang paling khawatir, bertanya-tanya tentangnya, setiap hari.

Sampai aku merasa terjatuh, padahal semuanya baik-baik saja.

Sudah benarkah sayangku?

Iklan

Ketuk Hati Fatia

Seperti tahun kemarin, malam ini di pesantren kami juga diadakan Nihai Show atau panggung gembira. Yang membuat beda, malam ini kami sebagai santri tingkat akhir yang harus menampilkan pertunjukannya.

Saat semua santri penampil bersiap-siap, aku melihat Fatia duduk saja di ujung tangga. Kucoba mendekatinya, “Fatia, kenapa belum siap-siap? Tinggal dua jam lagi dan kita harus tampil.”

“Aku malas, di sana ada Erika. Nanti saja, kalau dia sudah selesai dan keluar, aku akan ke sana dan bersiap-siap”, jawab Fatia kesal.

“Memangnya ada masalah apa kamu sama Erika? Selama hampir satu tahun ini aku perhatikan, kamu tidak pernah lagi ingin dekat bahkan hanya mendengar nama Erika. Selama muhadatsah, muhadhoroh dan kegiatan-kegiatan rutin lainnya, kamu selalu mencari kesempatan untuk menjauh saat ada Erika di dekatmu.”

Belum selesai aku berbicara, Fatia memotongnya, “aku tidak menyukainya”, bentak Fatia.

Aku bingung dengan sikap Fatia, namun saat aku berdiri dan hendak meninggalkan Fatia. Aku melihat Ummi Nazla. Ummi memintaku untuk duduk kembali mendekati Fatia.

“Maaf, tadi Ummi tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Boleh Ummi ikut bergabung?”

Aku hanya melirik pada Fatia, seolah memberi tanda bahwa Fatia lah yang berhak menjawabnya dan Fatia mengangguk.

Ummi Nazla memegang tangan kami berdua, “sebenarnya ada apa? tadi tidak sengaja Ummi mendengar kata “aku tidak menyukainya”, boleh Ummi tau siapa dan kenapa?”

Aku tidak mengambil sikap apapun, sampai setelah hening yang cukup panjang, Fatia menjawabnya, “saya tidak menyukai Erika, Ummi. Tapi maaf, Ummi, saya tidak bisa menyebutkan alasannya, karena saya pikir itu adalah salah satu aibnya.”

Ummi Nazla tersenyum, “iya, tidak perlu, jangan diceritakan jika memang itu yang terbaik. Tapi jika Ummi boleh tau, sejak kapan dan sampai kapan kamu bersikap seperti ini kepadanya?”

“Hampir satu tahun ini, Ummi dan saya pikir untuk selamanya.”

“Subhanallah”, dzikir Ummi. “Boleh Ummi menanggapi?”

“Iya, Ummi”, balas Fatia datar.

“Terlepas apapun yang telah dilakukan oleh Erika terhadapmu, kesal, jengkel dan kecewa itu memang tanggapan yang paling manusiawi. Tapi sampai kapan? Selamanya? Kamu pernah mendengar Hadist Riwayat Muslim yang mengatakan, “tidaklah halal bagi seorang muslim untuk meninggalkan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya juga saling bertemu, tetapi mereka tidak saling mengacuhkan satu sama lain. Yang paling baik di antara keduanya adalah yang lebih dulu memberi salam.” Tau itu?”

Kami mengangguk

Ummi melanjutkan pembicaraannya, “tidak ada keuntungan apapun dari menyimpan kesal, jengkel dan kecewa berkepanjangan selain rasa sakit. Ketika kita menyimpan keburukan untuk orang lain, ketika itu juga kita sedang melukai diri sendiri. Terkadang yang menyakitkan itu bukan karena kita disakiti, tapi karena kita menyakiti diri sendiri dengan merasa tersakiti. Apa kamu sudah mencoba membahas persoalannya dengan Erika?”

“Tidak perlu, Ummi”, ketus Fatia.

“Anakku, kamu pasti paham bahwa manusia adalah tempatnya salah, tempatnya khilaf. Mungkin persoalan yang kamu maksud, yang kamu besar-besarkan, tidak sama dengan yang dimaksud orang lain. Maka bermusyawarahlah, seperti yang diriwayatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “tidak satu kaum pun yang selalu melakukan musyawarah melainkan akan ditunjukkan jalan paling benar dalam perkara mereka”.”

“Dia tidak pernah meminta maaf, Ummi. Bagaimana lagi untuk membahasnya”.

Ummi tersenyum, “baiklah, anggap saja Erika memang bersalah. Namun bagaimana cara dia meminta maaf? jika kesempatan untuk berdekatan saja selalu dihindari. Mungkin saja selama ini, dia berusaha mencari kesempatan itu. Atau mungkin dia sedang mempersiapkan diri dan sesuatu untuk memohon maaf. Karena kita tau, memohon maaf itu tidak mudah, maka berilah maaf terlebih dahulu. Jika kamu sudah memaafkannya dengan ikhlas, hatimu pasti akan tenang dan dapat menerima kehadirannya lagi. Seperti dalam surah Al-Baqarah: 263, “perkataan yang baik dan pemberiaan maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”. Ummi paham tentang anak-anak Ummi, kalian semua anak baik. Ummi tinggal dulu”.

Ummi Nazla pergi dan meninggalkan kami berdua, tiba-tiba saja Fatia berdiri dan menarik tanganku, “ayo kita bersiap-siap, tapi setelah itu, temani aku menemui Erika ya.”

Aku tersenyum mengangguk.

“Kok gue gak?”

x : “dia pernah gak naik kelas, waktu SD. Sekarang kok bisa jadi pimpinan di perusahaan A.”

x : “dulu dia gendut banget, gak jauh beda sama rendaman bedcover. Sekarang seksi, bodinya udah kayak jembatan kelok sembilan.”

Si A kok bisa sukses. Si B kok bisa sukses. Kok gue gak?

Gue yakin, semua orang ingin sukses. Semua orang punya maksud sukses dan cara menjadi sukses masing-masing. Gak bisa selalu sama, gak harus disama-samain juga. Ada yang merasa cukup sukses sebagai guru yang mencetak murid-murid berprestasi. Ada yang merasa cukup sukses sebagai pedagang yang menjual barang dagangannya sedikit lebih murah dari lainnya, tapi bisa bikin ibu-ibu senang. Ada yang cukup merasa sukses memiliki motor Legenda dengan lampu sein bunyi “tiit.. tiit.. tiit..”. Ada yang cukup merasa sukses menjadi imam keluarga yang sakinah-mawaddah-warrahmah.

Fenomena yang gue lewati sebagai anak ’90an, sebagaimana umumnya, di umur-umur segini ada yanglagi  galau karena masih jadi pengangguran. Ada yang ribet karena belum dilamar-lamar. Sedangkan beberapa yang lain sudah ada yang gendong anak atau sudah jadi pengusaha dengan beberapa outlet.

“Kok mereka bisa enak, bisa sukses gitu? kok gue gak?”

Menurut gue, yang membedakan orang sukses dengan orang yang belum sukses itu bukan hanya perkara “kurang usaha”, bukan hanya perkara “kurang berdoa”. Tapi juga perkara kurang sabar.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dalam Q.S. Al Baqarah: 153, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Seringnya sebagai manusia kita hanya penting melihat dan menilai hasil dari orang lain. Tanpa sedikit mengulik proses sebelumnya. Siapa yang tau sesabar apa si seksi saat harus dibilang dan dilihat gendut? Siapa yang tau sesabar apa si pemilik perusahaan saat dagangannya gak laku bahkan bangkrut? Sedang kita sibuk bertanya dan mengeluh, “kok gue belum sukses? kok gue belum sesukses dia?”

Sukses itu kita yang tentuin. Apakah kita sudah cukup sabar dengan ketentuan-Nya?

Pembunuh Berdarah Dingin

Wuiiih.. Serem ya?

Sereman mana sama pembunuh berdarah tinggi? #candadeeng

Sebenarnya predikat itu cukup membuat hati dongkol, rasa-rasanya gue ini nakutin banget. Padahal kalo ngaca, emang iya sih! #Bah

Entah siapa yang memulai dan didasari oleh apa mereka mempredikati diri ini dengan julukan tersebut. Yang sempat terdengar dan ditanyakan secara langsung, katanya karena beberapa alasan ini:

  1. Diam-diam merhatiin. Sepanjang percakapan, gue dinilai dingin, susah diajak diskusi, sedikit angkuh, dan gak peduli. Tapi setelah percakapan riuh selesai, gue baru ambil kesempatan buat ngomong dan menjabarkan satu per satu secara terperinci. Itu sih kata orang-orang yang pernah atau sering ngajak gue ngomong.
  2. Tontonan favoritnya film-film pembantaian. Di saat temen nonton gue pada muntah-muntah lihat kulit manusia disobek-sobek, kedua lapisan bibir dijahit, tangan diblender, jari-jari digantungin, dan bola mata dipanggang. Gue malah melotot dan sangat menikmati adegan tersebut. Sempet ada yang bilang, apa yang biasanya ditonton itu lah kepribadiannya.
  3. Suka sunyi tapi gak suka sepi. Gak pengen ditinggal sendirian, tapi gak asik diajakin ngobrol. Yaa mentok-mentok, ada tv lah. Biar gambarnya nyala-nyala, tapi suaranya disenyapin.
  4. Pendiamnya keterlaluan. Kalau di rumah sering dibilang anak kos, kalau lagi diajak jalan-jalan sering dibilang anak tetangga.

Cukup terganggu dengan alasan-alasan di atas. Sudah sempet introspeksi, pengen berubah, tapi sepertinya sudah jadi karakter. Dan si predikat beserta alasan-alasan ini lah yang membuat gue kuper alias kurang pergaulan.

Ada gebetan yang akhirnya berani ngedeketin gue setelah lulus sekolah, padahal dia naksir dari awal masuk sekolah. Katanya, perlu banyak merhatiin dan nanya-nanya dulu tentang gue itu gimana biar gak apes dicuekin.

Ada sahabat yang kalau mau curhat beraninya cuma lewat telpon, sms, chat, atau e-mail. Kalau ngomong langsung suaranya gak kedengeran, kadang-kadang cenderung galak, katanya.

Bahkan, ada adik yang cuma saat mentok ngerjain PR Bahasa Inggris atau ngegambar baru berani minta tolong gue.  Nakutin, alasannya.

Padahal gue sendiri pengen bisa dekat dengan banyak orang, pengen bisa nunjukin rasa sayang dan cinta gue secara langsung. Tapi kaku dan cenderung malu. Lebih baik diam-diam bantuin, lebih baik bikin tulisan romantis ketimbang ngungkapin secara langsung, lebih baik kerjain sesuatu sebelum diperintah, lebih baik ngeberesin sendiri dari pada ribet minta tolong orang lain, itu sih menurut gue.

Dan gue, merasa sangat diistimewakan dengan adanya blog atau sejenisnya. Karena gue lebih leluasa jadi apadanya gue melalui tarian baku jari-jemari di lembaran kertas elektrik.

Gak semua bisa memahami keadaan ini, ada yang bilang aneh, terlalu berdrama, alay, dan pikiran negatif lainnya.

Terserah dengan si pembunuh berdarah dingin,

tapi gue bukan “Hello Kitty” yang cantik tapi ngerebut suami orang

gue juga bukan si Jessica, yang ngajak ngopi tapi campur sianida

Lebih tepatnya, gue si pemendam rasa, pembeku kata dan si pencinta kamu apa adanya. #ciee

Lagi-lagi Rindu

Aku pikir, siang cukup mempermainkan rinduku. Di keramaian, aku merasa sendiri. Namun ternyata, malam semakin menyudutkanku. Makin sunyi, rinduku makin bergemuruh.

Dulu, aku sangat memuji malam. Bersamanya rinduku terobati melalui pertemuan singkat di meja makan. Namun sekarang, aku geram pada malam. Saat terpejam, bahkan mimpi pun enggan menerkam.

Saat itu, aku merindukan malam. Dimana lelahku dan lelahnya hanya sekadar cerita, karena ia hanyut dalam dekap canda yang lekat. Namun saat ini, sepertinya malam merindukanku, sedang aku sibuk menyeka air mata yang turun deras bersama doa.

Ini tentang malam yang membersamai rindu teramat dalam, padamu, Yah.

 

Apa Kabar?

Lagi kangen banget ditanya apa kabar? Maksudnya apa kabar yang tulus, yang gak diiringi dengan modal dusta semata.

Maksudnya, apa kabar yang tulus aja. Yang muncul tiba-tiba bukan karena baru posting apa-apa. Yang muncul tiba-tiba bukan karena nongol di mimpi atau hanya di benak saja. Yang muncul tiba-tiba bukan karena masalah hidup, yang kamu pernah sangat berarti atau sebaliknya.

Maksudnya, apa kabar yang tulus aja. Yang bukan karena penasaran, tapi karena peduli.

Yaa.. Kalau belum dapat pertanyaan apa kabar, coba lah memberikan pertanyaan apa kabar, walaupun jawabannya cuma “sehat”, “alhamdulillah”, atau “emot senyum aja”. Pertanyaan apa kabar itu menyejukkan. Yang menunjukkan bahwa keadaan seseorang itu penting, paling tidak bagimu.