Pengingat yang Baik

Saya bukan seorang yang pendendam, hanya seorang pengingat yang baik.

Rata-rata pemarah akan berkata demikian, untuk menyakiti dirinya sendiri.

Yakin ingat taubat saat tinggal salat?

Yakin ingat minta maaf saat nyusahin orang tua?

Yakin ingat berterima kasih saat dibantuin sahabat?

Yakin ingat kalau diri sendiri tempatnya salah?

Jadi lah pemarah yang bijak, yang mengoreksi diri, bukan membenam benci.

Jadi lah pengingat yang baik, agar kita bersyukur.

Iklan

Ada jatahnya

Semua ada jatahnya. Tak selamanya kamu berada di atas, pun tak berlama-lama Tuhan membiarkanmu di bawah. Tak mungkin selamanya kesedihan menyertaimu sebagaimana senyum yang tak selalu menghiasi wajahmu.

Hari ini bahagia, tapi besok bisa jadi kamu akan menangis sejadi-jadinya. Hari ini bersama keluarga tercinta, tapi besok bisa jadi salah satu dari mereka akan pergi selamanya.

Pagi ini sarapan, tapi nanti siang bisa jadi kamu tidak nafsu lagi untuk makan. Pergi kerja naik yaris, bisa jadi pulangnya naik bis.

Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi bahkan beberapa detik dari sekarang, tapi kamu bisa mempersiapkan diri untuk menerimanya. Siapkan hati yang lapang agar semuanya bisa kamu hadapi dengan tenang.

Tak peduli sekarang kamu tersenyum atau berwajah murung, berbahagialah dengan sederhana dan bersedihlah sewajarnya. Karena semua ada jatahnya.

 

Ya, begini

Hidup ini, ya begini.
Ketika kita sangat menginginkan sesuatu, seringkali yang datang adalah hambatan, sebelum kesempatan. Semacam Yang Maha Tahu berbicara dengan bahasa yang lebih tinggi dari manusia, “sampai sejauh mana tekadmu?”

Hidup ini, ya begini.
Ketika berusaha menjadi benar, selalu ada-ada saja godaan untuk kembali berbuat salah. Diberi iming-iming indah untuk memilih apa yang seharusnya tidak dipilih. Sebagaimana bahasa Yang Maha Tinggi, “jalanKu tidak akan mudah, tetapi Aku jelas akan memudahkanmu dengan caraKu.”

Tenang saja.
JanjiNya selalu pasti, bukan? Iya, seperti bersama kesulitan ada kemudahan. Bukankah artinya, untuk mendapatkan kemudahan kita harus bertemu kesulitan? Memang begitu cara kerjaNya.

 

Dimengerti

Ada benarnya bahwa kita tidak perlu meminta dimengerti oleh orang lain. Kita dan mereka, sama-sama individu yang punya tingkah dan kepentingan berbeda. Setiap manusia akan memiliki sudut pandangnya sendiri dalam melihat orang lain. Pun mereka terhadap kita.

Tak perlu bersusah payah membuat mereka mengerti. Tak perlu meminta dipahami dengan membuang harga diri.

Sebab suatu hari, kita akan bertemu dengan orang-orang yang tanpa kita minta akan mencoba memahami. Orang-orang yang dengan senang hati berusaha mengerti. Meski tentu tak pernah sepenuhnya, tapi setidaknya mereka selalu berupaya.

Suatu hari kita akan bertemu dengan orang-orang yang selalu mempertanyakan perihal keadaan kita yang sebenarnya. Bukan sekedar apa yang dapat dilihat mata.

Tak perlu memaksa. Kadang, bahkan kita tak perlu mencari, sebab mereka datang sendiri.

Berhentilah meminta dimengerti. Berjalanlah dengan penuh harga diri.

 

Periksa Hati

Jika saat ini kamu merasa iri melihat temanmu berteriak alhamdulillah karena naik jabatan, upload foto lagi liburan, share video bareng suami/istri dan anaknya, beli mobil baru ataupun s2 ke luar negeri, yang salah bukan temanmu. Apakah ia merugikan waktumu? Apakah ia menghabiskan tenagamu? Apakah ia menggunakan sepeser saja uangmu? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan berprasangka buruk soal niat temanmu. Kamu kira ia riya’, kamu anggap dia pencitraan.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai syukur.

Jika saat ini kamu merasa kecewa karena tidak ada yang memuji amalmu, tidak ada yang menghargai kebaikanmu, tidak ada yang mendengarkan nasihatmu yang menurutmu sudah benar. Jangan salahkan temanmu! Apakah mereka mencegahmu berbuat baik? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan menyemai benih harapan pada balasan manusia.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai ketulusan.

Jika kita pahami, bahwa kebanyakan-hampir-seluruhnya penyakit hati sumbernya adalah pada masalah diri yang belum menyelesaikan urusannya dengan ego pribadi. Yang darinya lahir sebuah dunia tak kasat mata, di dalamnya si aku menjadi sentral, yang harus diutamakan, yang harus diistimewakan dan yang harus didahulukan. Membuat diri seolah-olah kuat di luar, namun rapuh di dalam.

Tentang Hubungan

Sedewasa ini, kita akan paham bahwa cinta saja tidak cukup untuk membuat sebuah hubungan berhasil. Ada banyak faktor yang penting untuk dipertimbangkan. Seperti, pekerjaan, jarak, pola pikir, restu keluarga hingga gaya hidup juga ikut menentukan bertahan atau tidaknya suatu hubungan.

Kamu bukan lagi orang yang bertahan hanya karena alasan sudah dekat dengan keluarganya ataupun sudah terlanjur lama menjalin hubungan.

Di usia ini kita harus lebih rasional. Hubungan yang serius itu bukan cuma tentang mencari persamaan, tapi lebih pada bagaimana menyatukan perbedaan.