Rumah “Kurcaci”

Menurut Wikipedia, kurcaci adalah salah satu camilan dari biji semangka, biji waluh, atau biji bunga matahari yang dikeringkan dan diasinkan. #candadeeng itu mah kuaci.

Hampir kebanyakan dari kita punya pemikiran yang sama saat mendengar atau membaca kata kurcaci. Si manusia kerdil  dalam mitologi Nordik. Yaaaakan?

Tapi “Kurcaci” di sini hanya istilah kok, karena “Kurcacinya” adalah keluarga gue sendiri.

Suatu waktu, sepasang suami istri ngebangun sebuah rumah RSSSSS (Rumah Sangat Sederhana Sampe Susah Selonjoran) #eetdah. Rumah tersebut dibangun dengan jarak antara lantai dan atap kurang lebih enam meter. Setelah beberapa waktu, akhirnya rumah tersebut selesai dan siap dihuni. Satu sampai lima tahun pertama, rumah dan lingkungan sekitarnya masih aman-aman saja. Di bagian samping kiri rumah ditanami beberapa pohon buah-buahan, jambu biji, jambu air, belimbing, cermin/ciremai, markisa, dan lainnya. Di bagian belakang dan samping kanan rumah, ada dua kolam kecil yang dibuat khusus untuk berenang. He’eh! kolam renangnya ikan dan bebek-bebek kesayangan si Bapak. Saat itu, lingkungan sekitar masih adem, nyaman dan aman. Mungkin karena penghuni dunia zaman dulu belum bandel-bandel banget ya.

Masuk lima tahun kedua, ada yang mulai gak beres. Lagi asik-asiknya tidur, pipi basah, dielap-basah lagi-elap lagi-basah lagi, eeh ternyata lantainya becek. Rumah mulai rembes, gak mampu lagi membendung perasaan yang selama ini terpendam. Pemilik rumah mulai ketar ketir, dari pada tidurnya keganggu sama rembesan hujan bareng air kolam si bebek. Pemilik rumah memutuskan untuk meninggikan lantai, yang ditambah tiga tingkat bata. Solusinya tepat, berjalan tujuh hingga delapan tahun kemudian, rumah bebas banjir. Lega dong..tidur bisa nyenyak gak bareng kotoran bebek yang merayap-rayap ke muka.

lima tahun-sepuluh tahun-delapan belas tahun. Masuk tahun ke-19 hingga saat ini, rumah tersebut sudah mengalami tiga kali peninggian, dengan jumlah tingkat bata lebih banyak dari sebelumnya. Dua kolam yang awalnya sengaja dibuat pun diputuskan untuk ditimbun hingga rata dengan lantai rumah.

Tapi solusi tersebut gak bertahan seumur hidup. Untuk pertama kalinya setelah hampir belasan tahun peninggian terakhir, rumah rembes lagi. Iya sih gak ada kotoran bebek lagi, tapi rembesnya bareng cacing yang menggeliat-liat kayak penonton alay di ujung jari-jari kaki.

Setelah mengalami 1..2..3..4..5..6..7anku sakinah bersamamu #eebuset. Hmm.. kurang lebih empat kali peninggian, jarak lantai dengan atap yang awalnya enam meter, sekarang sisa sekitar dua setengah meter. WHAT?! Dan, kalian kebayang gak gimana kalau rumah tersebut harus ditinggiin lagi? Apakah generasi seterusnya harus kawin sama kecambah biar keturunannya gak harus tinggi dan muat masuk ke rumah tersebut?

Untuk saat ini belum ada solusi lain untuk menghindari banjir, bertahan aja dulu sampe tim bedah rumah datang pura-pura ngagetin. Dan bersabar saat ada yang bilang, “rumahnya pendek ya, kayak rumah Kurcaci”.

Iklan

Mendadak Montir

Sejak kepergian ayah, enam bulan yang lalu. Pergaulan dan pembahasan¬† gue jadi sedikit berbeda. Kalau dulu di google gue sering blogwalking, sekarang di google bukanya forum perawatan motor dan mobil. Kalau dulu ngobrolnya sama chat group liqo’, temen SD sampai kuliah dan temen-temen seumuran lainnya, sekarang ngobrolnya bareng om-om somplak. Kalau dulu bahasannya cuma seputar pelajaran sampai cowok yang disuka, sekarang ngebahas tentang busi, radiator, aki, dan teman-teman seperjuangannya.

Merujuk dari forum dan chat group di WhatsApp, dengan niat yang tulus gue pengen otak-atik mesin mobil dari hal paling sederhana terlebih dulu.

Pertama, gue coba kuras radiator, biar gak sering panas, katanya. Menurut dari forum yang gue baca, cara kurasnya cukup disemprot air biasa yang cukup deras, biar airnya mengalir ke corong yang ada di bawah mesin hingga airnya bersih. Iya, harusnya air tersebut ngalir ke bawah, tapi gue lupa ngebukanya lebih dulu. Pas udah keisi penuh, dengan sigap gue buka penutup corong yang di bawah. Sudah tau dong apa yang terjadi? Ya, muka gue kesemprot air yang berminyak dan hitam pekat.

Kedua, setelah kejadian yang cukup menganaskan di atas. Gue gak pantang menyerah. Air radiator sudah bersih lagi. Kali ini gue coba ngebersihin mesin-mesinnya. Ngebersihin mesin-mesin mobil cukup dengan diusap-usap kain yang lembab, iya, lembab. Beberapa sisi sudah mulai kinclong, kemudian gue beralih ke aki. Di sini nih kejadiannya, entah kainnya yang melewati batas lembab alias basah, pas gue usapin di aki, kalian tau apa yang terjadi? He’eh, gue kesetrum. Gak ngerti dari mana arusnya, yang jelas jari-jari gue cukup lemas seketika.

Dua kejadian di atas membuat gue sekarang jadi gak bersemangat otak-atik mesin mobil. Semacam sudah berjuang mati-matian dapetin kamu tapi tetap ditolak. Kecewaaa