Bawa Aku, Ayah

Ayah, aku lelah jadi dewasa.

Lelah kecewa dan mengecewakan. Lelah berkomitmen, lalu diingkari, hanya karna ada sesuatu yang harus didahului.

Betapa aku sendu, mengingat masa kecil itu. Bermain saja sepuasnya tanpa takut tersakiti. Pulangkan aku pada kenangan masa lalu, yang di dalamnya tidak banyak dihuni rasa sakit, meski goresan-goresan luka bersarang di lutut dan kedua sikuku.

Bawa aku bersenang-senang, Ayah. Bawa lagi aku pada senyum tanpa luka.

Iklan

Lagi-lagi Rindu

Aku pikir, siang cukup mempermainkan rinduku. Di keramaian, aku merasa sendiri. Namun ternyata, malam semakin menyudutkanku. Makin sunyi, rinduku makin bergemuruh.

Dulu, aku sangat memuji malam. Bersamanya rinduku terobati melalui pertemuan singkat di meja makan. Namun sekarang, aku geram pada malam. Saat terpejam, bahkan mimpi pun enggan menerkam.

Saat itu, aku merindukan malam. Dimana lelahku dan lelahnya hanya sekadar cerita, karena ia hanyut dalam dekap canda yang lekat. Namun saat ini, sepertinya malam merindukanku, sedang aku sibuk menyeka air mata yang turun deras bersama doa.

Ini tentang malam yang membersamai rindu teramat dalam, padamu, Yah.

 

103

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al Baqarah: 216)

2010

Sebelum lulus sekolah, sebenarnya aku sudah dinyatakan lulus di dua perguruan tinggi negeri, Medan dan Jogjakarta, melalui jalur PMDK dan keduanya berhasil mendapatkan beasiswa. Aku bahagia, namun orang tuaku tidak. “Kamu pendiam, nanti sudah beradaptasi, bisa-bisa mati gak ada yang tau”, kata Ayah. Mamah pun mengiyakan, “iya, Medan dan Jogja itu jauh, nanti kamu gak betah, tidur di rumah saudara aja gak mau, apalagi tidur sendiri nanti”. Begitulah kira-kira pernyataan penolakan dari orang tua. Hingga akhirnya aku harus menunggu satu tahun lagi untuk dapat lulus ke perguruan tinggi negeri yang mereka inginkan.

2015

time flies so fast

Setelah empat tahun berkutat di perguruan tinggi negeri ini, akhirnya aku dinyatakan selesai melalui ujian komprehensif di November lalu. Harusnya aku dapat wisuda di 2 Desember, tapi ada beberapa kendala yang akhirnya mengundurnya hingga ke 18 Februari tahun berikutnya, tanpa kehadiran Ayah. Iya. Ayah sudah lebih dulu pergi di 18 Desember, sebelum sempat mendampingi perayaan yang sudah kami nantikan sejak lama.

Jangan tanyakan rasanya! Air mata tak cukup mewakili sakitnya. Hingga saat semua teman berbahagia, sedangkan aku hanya ingin hari itu segera berakhir saja.

2016

Saat ini, aku benar-benar baru paham, apa hikmah dari penolakan orang tua, terutama Ayah pada saat itu untuk aku bepergian jauh.

Aku bayangkan,

Jika saja saat itu aku pergi, entah ke Medan atau Jogja, tentunya aku akan menghabiskan waktu ku selama beberapa tahun lebih lama di luar rumah. Aku akan sangat jarang bertemu Ayah, Mamah dan adik-adik ku yang ada tiga.

Aku paham Ayah teramat sangat mencintaiku. Ku bayangkan lagi,

Jika saat itu aku memilih kuliah jauh, tentu saja ayah tidak akan dapat kurepotkan tiap pagi. Dimana aku sering sekali meminta Ayah buru-buru mengantarku karena takut ketinggalan bus. Jika saat itu aku memilih kuliah jauh, tentu saja nama ayah tidak sering kusebut untuk mengantarkan beberapa perlengkapan kuliah yang sering tertinggal. Jika saat itu aku memilih kuliah jauh, tentu saja aku tidak dapat meminta restu ayah secara langsung dengan mencium tangan dan pipinya, tiap hari.

Ayah, datanglah lagi, temui aku pada saatnya kita harus bertemu.

I love you,

Mbak Ria

 

ini tentang ayahku

“Yah…”

Satu kata yang selalu spontan terucap disaat-saat yang paling sulit kulakukan, dari memasak, membetulkan elektronik yang rusak hingga mengatasi kendaraan yang tiba-tiba mogok. Ayahku serba bisa. Aku paling manja padanya saat ada tugas-tugas dari sekolah, mewarnai, menggambar hingga menjahit pun ku teriakan namanya. Ayahku tak pernah berkata tidak bisa. Dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untukku, walau mungkin yang ku minta tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Ah! tapi aku tidak pernah dikecewakannya, selalu saja nilaiku yang terbaik dalam tugas seni, terutama menggambar dan mewarnai.

Selain menggambar dia juga mampu menghidupkan suasana. Kelakarnya yang khas “wong plembang” membuat orang-orang disekitarnya nyaman. Dia mampu memainkan kata-kata menjadi narasi-narasi terkonyol. Dia mampu membuat candaan sesuai keadaan, hingga tua muda pun ikut terbahak.

Banyak jika ku uraikan satu per satu memori bersamanya. Namun yang paling aku ingat, ayahku tidak pernah mau mengecewakan aku. Pernah suatu waktu, saat itu aku masih SD, ayahku hendak mengantar aku dan adikku pergi les Bahasa Inggris, kemudian teman-temanku menjemput kami berdua. “Yah…”, kami menatap mata ayah seolah menanyakan bagaimana baiknya. Ayah langsung sigap, dengan vespa hijau butut  kesayangannya, ayah berkata, “yasudah, semuanya ayah antar.” Dalam hati aku bergumam, “bagaimana bisa?”. Kemudian ayah menyusun formasi terbaik menurutnya, aku dan adikku diminta untuk berdiri di kanan kiri bagian depan, sedangkan dua temanku diminta untuk duduk berboncengan di belakang. Percayalah, ini adegan berbahaya, tapi ayah mampu meyakinkan kami dengan mengantarkan kami ke tempat les dengan selamat dan menyenangkan. Kalian ingat itu, kawan?

Ayahku paling “fleksibel”, dia bisa menjadi ayah yang konyol dan ayah yang tegas, ayahku juga manja. Dengan penyakit jantung yang dideritanya, ayahku sangat takut saat diajak ke rumah sakit, alasannya begini lah, begitu lah, sampai akhirnya dia mengaku bahwa dia takut disuntik. Lucu, yang aku tau ayahku tidak pernah menolak permintaan-permintaan (baik) ku, walau terhitung bahaya sebenarnya.

Ku sebut ayahku penipu. Dia selalu menipuku lewat canda dan sabarnya. Dia tidak pernah berkata sakit, lelah, malas, dan bosan. Dia selalu mengerjakan sesuatunya sendiri, selama sakit jantungnya itu tidak mengganggu. Lelah sedikit tak kan dia rasa, jika itu untuk memanjakanku.

“One father is more than a hundred schoolmasters”- George Herbert

Ayahku memang bukan orang yang teramat pandai, dia tidak pandai berkata atas apa yang dia harapkan padaku, dia tidak pandai mengungkapkan bahwa dia mencintaiku, teramat sangat. Tetapi dia mampu memberiku banyak ilmu dengan baik buruknya sesuatu yang pernah dia lakukan. Aku yakin, saat ayahku berbuat baik itu adalah caranya berdoa agar Tuhan menjadikan aku baik, dan saat ayahku khilaf itu adalah caranya bermohon agar Tuhan tidak menurunkannya padaku. Ayahku, gudang ilmu, jika tak kata, maka perilakunya lah yang mengajarkan.

untuk bahumu yang pernah kekar lalu melunak karenaku

untuk kakimu yang pernah tangguh lalu merapuh karenaku

dan untuk hatimu yang terus menerus mencintaiku

Ayah… aku pun mencintaimu