Terbawa Suasana

Tidak setiap perasaan baik untuk ditindaklanjuti, ada kalanya kita harus menahan diri, karena menurutinya bisa jadi merugikan orang lain. Hidup tidak untuk diri sendiri, kan?

Sulit memang, tidak hanya amarah, kadang saat jatuh cinta pun ingin ada yang perlu mengetahuinya. Entah dengan alasan untuk meminta pendapat atau pun sudah keterlaluan.

Marah tidak membuat kita bahagia, masing-masing hati akan terluka, sedang kemudian sangat sulit untuk diperbaiki seperti awalan. Begitu pula cinta, tidak melulu membuat suka, pada nyatanya cinta hanya awalan dari sebuah luka.

Tahan dulu, buat daftar perasaan mana yang perlu ditelusuri, karena ada marah dan cinta yang katanya, hanya “terbawa suasana” saja.

Iklan

Ada jatahnya

Semua ada jatahnya. Tak selamanya kamu berada di atas, pun tak berlama-lama Tuhan membiarkanmu di bawah. Tak mungkin selamanya kesedihan menyertaimu sebagaimana senyum yang tak selalu menghiasi wajahmu.

Hari ini bahagia, tapi besok bisa jadi kamu akan menangis sejadi-jadinya. Hari ini bersama keluarga tercinta, tapi besok bisa jadi salah satu dari mereka akan pergi selamanya.

Pagi ini sarapan, tapi nanti siang bisa jadi kamu tidak nafsu lagi untuk makan. Pergi kerja naik yaris, bisa jadi pulangnya naik bis.

Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi bahkan beberapa detik dari sekarang, tapi kamu bisa mempersiapkan diri untuk menerimanya. Siapkan hati yang lapang agar semuanya bisa kamu hadapi dengan tenang.

Tak peduli sekarang kamu tersenyum atau berwajah murung, berbahagialah dengan sederhana dan bersedihlah sewajarnya. Karena semua ada jatahnya.

 

105

Ma, saat ini aku benar-benar bahagia, karena aku masih dapat melihat mama setelah bangunku yang kesiangan dan sebelum tidurku yang kemalaman. Aku tau pundak itu lelah, kaki itu rapuh dan hati itu pilu. Namun apa dayaku, ketika mama masih memanjakanku sehingga aku lupa ada waktu yang cepat atau lambat telah menunggu.

Ma, aku terlahir atas doamu. Aku tumbuh atas ridamu.

Maafkan aku. Jika aku lebih percaya bahwa uang sudah cukup membuat mama bahagia. Jika aku lebih berpikir jauh dari mama akan lebih meringankan beban. Jika aku lebih memilih untuk diam karena malu menyusahkan mama. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kecukupanku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kabarku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kesibukanku. Sedangkan mama, memilih untuk jauh lebih rumit memikirkanku dari pada bahagia.

Ma, jangan esok, jangan lusa, jangan pula tahun depan. Jangan lebih dulu dariku.

Aku butuh mama dengan segala keangkuhanku. Maafkan aku.

 

Anak Tangga Ke-24

Jangan berlari terlalu kencang! Kakiku kan pendek.

Aku tidak mengerti apa maksudmu dengan mengajakku pergi sepagi ini. Langit masih sangat gelap, azan subuh pun belum berkumandang. Tidak masalah, karena pikirku kamu akan membawa mobil kesayanganmu dan aku dapat melanjutkan tidur selama perjalanan. Hari ini kamu aneh! tidak dengan mobil dan sepatu favoritmu, kamu datang dan menarikku berlari dengan kaki telanjang.

Aku menggerutu sepanjang jalan dan kamu tidak membantah apapun.

“Ada apa ini? kita mau kemana? aku cape!”

Bukannya berhenti sejenak dan menenangkanku, jemariku makin terasa sesak karena genggaman dan tarikan tanganmu. Kamu terus mengajakku berlari, tak peduli dengan sendal jepitku yang putus dan napasku yang terengah.

Tiba di suatu bangunan tinggi dan gelap, kamu mencoba menarik tanganku untuk mengajak masuk.

“Tidak! tempat ini menyeramkan. Aku takut terjadi apa-apa di dalam.”

Kali ini aku lebih beruntung, kamu menoleh-mengedipkan mata seolah meyakinkanku tidak ada hal buruk di dalam sana. Aku mengangguk.

Gedungnya sangat sesak, kamu langsung mengajakku naik. Setengah terengah, aku menaikki anak tangga – perlahan – menghitungnya, sambil tetap menggenggam tanganmu erat.

Ke-24. Aku mencoba memastikan lagi hitunganku, saat aku berpaling tanganku merenggang, jari-jemarinya tak lagi sesak kurasa. Iya, tangganya terputus di anak tangga ke-24. Kuangkat kepalaku pelan, kita tidak lagi bergenggaman, kamu sudah ada di tepian dan mencoba lompat meraih anak tangga yang kuperikirakan sebagai anak tangga ke-30. Gagal, kamu terjatuh jauh dan aku menelungkup mencarimu. Bukan tanganmu yang kudapatkan, tapi kecupan kecil ibu di keningku yang membangunkan.

Seraya memeluk, ibu berucap, “selamat pagi dan selamat ulang tahun, Nak. Semoga di umur ke-24 ini kamu dapat menanjaki hal-hal yang lebih baik”. Aku membalas pelukan ibu dan menatap bingkai fotomu yang berada tepat di dinding depan kasurku.

Hatiku bergumam, “terima kasih, Rico”.