Biasa Saja

Bertemanlah dengan siapapun, dengan perasaan yang tidak berlebihan, biarlah biasa-biasa saja. Jangan letakkan harapan terlalu besar, jangan jadi terlalu baik, jangan menabur budi terlalu banyak.

Suatu saat nanti, akan ada yang tidak sesuai harapanmu. Kecewa-terluka siapa yang peduli?

Manusia datang dan pergi. Silih dan mungkin takkan berganti.

Biasa saja lah. Jangan terlalu banyak berkorban, hal itu hanya menimbulkan pengharapan-pengharapan. Berbuat baiklah, seikhlas-ikhlasnya. Jangan karena inginkan ini itu suatu waktu nanti, sehingga korbankan semuanya hari ini.

Iklan

Wanita baik

Wahai diri,

jadilah wanita baik. Yang benar-benar baik, bukan karena begitu-begini.

Jadilah wanita baik.

Yang ucapannya baik. Wanita baik itu lemah lembut, kata-katanya nenangin, sekalipun becanda, gak sampe ngelukain.

Jadilah wanita baik.

Yang sikapnya baik. Wanita baik itu tau batasan. Yang dapat memaksimalkan dirinya menjadi manfaat buat orang banyak.

Yang pikirannya baik. Wanita baik itu berpikiran positif. Yang gak gampang kesinggung. Yang pikirannya menjadi solusi.

Jadilah wanita baik. Yang benar-benar baik. Yang gak suka ngeluh, karena lemah lembut bukan berarti gak mampu ngapa-ngapain, kan? Wanita baik itu yang tau kekurangannya, tapi gak buka-bukaan urusan “dapur”nya. Wanita baik itu yang mampu meleburkan kelebihannya menjadi kebaikan buat orang lain.

Yang jelas lagi, wanita baik itu yang gak suka ghibah.

Cape Jadi Baik

Jadi orang baik memang gak gampang. Mau ngomong aja mesti mikir gimana caranya biar gak nyakitin hati orang lain. Mau minta tolong, dibilang nyusahin, sekalinya mau nolongin, dibilang modus.

Jadi baik itu cape. Karena gak setiap kebaikan dibalas juga dengan kebaikan. Kayak kata pepatah, “air susu dibalas air tuba”. Mesti sabar-sabar. Mesti pengertian.

Beda cerita kalo mau jadi orang jahat, tinggal iseng, orang sebel, fix! “Lo jahat!”. Mau ngomong, suka-suka. Gak mau nolong, terserah.

Tapiii, imbalannya beda, Coy!

Menurut sabda Rasulullah Salallahu alayhi wassalam, dalam Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, “… dan jika ia mengerjakan (kebaikan) yang telah ia niatkan, maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan, sampai tujuh ratus kebaikan, hingga berlipat-lipat kebaikan …”

Wajar kalo jadi orang baik itu gak gampang dan cape. Karna Allah menjanjikan banyak kebaikan setelahnya. Walau kadang kebaikan yang kita lakukan gak serta merta terbalaskan, tapi pasti akan selalu ada hikmah di dalamnya.

Untuk kita yang (mungkin) saat ini (sedang) lelah jadi baik, karena;

  1. Ngutangin tapi gak dibayar, ditagih malah marah-marah,
  2. Sering nraktir, tapi gak pernah ditraktir,
  3. Minta maaf, tapi dicuekin,
  4. Ngajak balikan, tapi malah dipamerin foto mantan sama pacar barunya,
  5. Kerja teliti, dibilang lelet. Gesit-gesit, dibilang gak fokus,
  6. Bilang rindu, dibilang bullshit,
  7. Silaturahmi, dituduh modus, dan lainnya.

Siapin hati yang luas. Peribaratan orang baik dan jahat itu, antara orang waras dan gila. *Peribaratan nih yaa*. Jadi sebagai orang yang waras atau baik, kita pasti bisa berpikiran baik. Pikir aja, mungkin yang marah-marah itu lagi malu, jadi sebaiknya jangan ditagih terus, doain aja mereka banyak rezekinya. Mungkin yang lagi gak bisa nraktir, emang lagi ada sesuatu yang jadi prioritas, doain aja meereka diberi kelapangan. Mungkin yang lagi nyuekin, emang lagi sibuk, atau malah takut jadi mengungkit kisah lama, padahal sebenernya dia udah maafin, jadi maafin mereka lebih dulu sebelum minta maaf. Mungkin yang lagi pamer foto pacarnya, lagi ngarepin banget kamu cemburu dan berusaha untuk seriusin dia, doain aja dia dan kita dikasih yang terbaik. Mungkin yang bilang lelet atau gak fokus, lagi pengen banget kita jadi pegawai yang profesional, doain aja dia dilembutin hatinya. Mungkin yang bilang bullshit, diam-diam lagi pengen dihalalin, doain aja kita mampu lebih baik. Dan mungkin yang bilang modus, lagi cape, lagi butuh sendiri dan introspeksi, doain aja mereka sehat dan umur panjang, biar bisa silaturahmi di lain waktu.

Kalo udah kayak gitu, jadi baik itu gampang, kan?

 

Teman Baik

“Tok! Tok! Tok!”, pintu diketuk dengan keras dan gaduh.

Aku segera meninggalkan dapur, “iya, siapa?”, teriakku sambil berjalan ke arah pintu.

“Kreeek”, aku membuka pintu dan sedikit kaget, “Pak Madan? Ada apa, Pak?”

“Saya dapat kabar dari satpam komplek sebelah, kalau Rio, anak Ibu, tadi kecelakaan dan sekarang dibawa ke rumah sakit di dekat sini”.

Seperti tersambar petir, aku terpaku sejenak terkenang Rio yang izin membawa motor. Beberapa saat aku tersadar dan segera minta tolong Pak Madan untuk mengantar ke rumah sakit tujuan.

Aku berhenti di UGD, sedangkan Pak Madan mencari tempat parkir. Sesaat masuk, aku langsung dipanggil oleh Tama, anak yang menjemput Rio untuk bermain motor sore tadi.

“Tante, Rio di sini”, ucap Tama.

“Haaah..” aku baru bisa bernapas lega saat melihat kondisi Rio yang sebenarnya.

“Rio gak luka parah kok, Tante. Setelah obatnya datang, Rio juga sudah boleh pulang”, jelas Tama.

Sambil menunggu obatnya datang, aku mengurus biaya administrasi dan pengobatan Rio selama di UGD. Sesaat selanjutnya, obat pun datang. Aku memutuskan untuk segera membawa Rio pulang dengan taksi. Sedangkan motor Rio aku minta tolong pada Tama dan Pak Madan untuk membawanya pulang.

***

Sebelum tidur, ada obat oles yang perlu dipakai oleh Rio untuk mengeringkan luka-luka pada kaki dan tangannya.

Sambil mengoleskan obat, aku mengingatkan pada Rio, “lain kali cari temen jangan yang nakal. Temenan sama orang baik aja. Orang nakal gak perlu dideketin.”

Rio ngeyel, “memangnya kenapa, Ma? Tama gak jahat kok.”

“Dia yang setiap hari ngajakin kamu main motor kan? Dia pasti ngajakin kamu ngebut-ngebutan. Besok-besok dia bisa ngajakin kamu lebih nakal lagi.”

Rio menjawab lagi, “Ma, Tama gak nakal. Dia yang ngajarin Rio bisa ngebawa motor. Tadi sore itu cuma kecelakaan, yang salah Rio bukan Tama.”

“Pokoknya kamu harus jauh-jauhin temen kamu yang jahat, yang nakal dan bandel”.

“Hmm..”, Rio menghela napas keras, “memangnya kenapa sih, Ma? Kalau orang jahat, nakal dan bandel gak boleh temenan sama orang baik? Terus gimana caranya dia bisa jadi baik? Kita bisa tau salah dan benar, jahat dan baik, kan juga karena ada contohnya. Kalau orang baik cuma boleh berteman dengan orang baik, bagaimana dia bisa tau yang mana yang benar dan salah? Begitu juga dengan orang jahat, kalau dia cuma boleh berteman dengan orang jahat juga, kapan dia bisa paham apa yang dia lakukan itu salah?”

Aku tertegun dan menyimak perkataan Rio

“Terkadang bukan orang itu benar-benar baik, atau benar-benar jahat. Tapi karena dia merasa paling benar dan tidak ada contoh kebenarannya. Kalau begitu, tidak ada bedanya antara orang baik dan jahat. Semua hidup dalam perasaan yang tidak tau dan selalu benar. Lagian gak ada yang tau isi hati seseorang, selagi dia tidak secara terang-terangan menyakiti kita, apa salahnya kita tetap menerima kehadirannya dan bersikap baik? Dan bagaimana orang baik bisa lebih baik, jika orang yang lebih baik menganggapnya tidak baik? Begitu saja terus, sampai akhirnya benar-benar tidak ada orang yang dapat dikatakan baik. Katanya, gak semua orang baik itu baik, kadang ada maunya. Kalau begitu, sudah pasti gak semua orang jahat itu jahat, kadang mereka juga ada maunya, mau berubah lebih baik, mungkin.”

“Rio sudah mulai dewasa”, gumamku dalam hati. “Yasudah, tidurlah!”, aku mengusap kepala Rio dan berdoa semoga dia selalu menjadi anak baik dan di kelilingi orang-orang baik juga.