Abaikan

Diabaikan? Sakit memang, entah diabaikan oleh teman (yang katanya) dekat, oleh atasan di kantor, oleh keluarga, pasangan ataupun oleh Allah karena merasa doa-doa kita tidak pernah terkabulkan. Lebih-lebih dalam kurun waktu yang cukup lama dan bukan karena alasan untuk membuat kejutan saja.

Tapi salah atau benar, perihal perasaan diabaikan, apakah benar kita yang diabaikan? atau bahkan kita yang mengabaikan mereka lebih dulu? Sehingga muncul perasaan diabaikan.

Pengabaian perihal ada namun tiada, perihal muncul namun ditenggelamkan, perihal nampak namun hanya sebagai bayangan.

Mulai rasa sakit di dada hingga ke pelupuk mata. Mulai tangis yang membasahi pipi hingga benci yang menjadi-jadi.

Tidak perlu memendam dendam atau sedih berkepanjangan saat merasa diabaikan, awali saja, agar kamu paham siapa yang sebenarnya mengabaikan dan diabaikan.

Sebagaimana menurut H.R. Bukhari, “Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia mengingat-Ku. Bila dia mengingat-Ku pada dirinya maka Aku mengingatnya pada diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku pada suatu kelompok maka Aku mengingatnya pada kelompok yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat satu jengkal kepada-Ku maka Aku akan mendekat satu hasta kepadanya, jika dia mendekat satu hasta kepada-Ku Aku akan mendekat kepadanya satu depa”.

Iklan