Kondangan

Anak-anak 80′ – 90’an jaman now, pasti lagi rame-ramenya dapet undangan nikah. Temen-temen sekolah, tetangga, sampe mantan silih berganti ngirimin undangan.

Seandainya, bagi-bagi undangan nikah itu segampang tradisi bagi-bagi rantangan sebelum lebaran, pasti langsung gue bales. Kirim undangan balik. Tapi ya gitu, bagi-bagi undangan nikah kalo dengannya masih kosong, kan lucu. Gue Jomblo.

Dari sekian banyak undangan yang gue dapet dan yang sempet gue datengin, gue dapet banyak pelajaran tentang pernikahan.

  1. Gue belajar tentang kesederhanaan. Selama ini, gue sering menghayal tentang konsep pernikahan yang anti mainstream. Pengen nikahan berkonsep alam, dari di pinggiran pantai, puncak gunung, sampe dasar laut. Pengen yang cuma gue satu-satunya pake konsep itu. Tapi ternyata, keinginan itu sedikit demi sedikit memudar. Setelah beberapa kali melihat dan sedikit menjadi bagian dari konsep pernikahan temen-temen. Sederhana saja, yang penting sakral dan barokah. Gak perlu gedung yang mewah, yang penting semua tamu nyaman, makanan cukup. Gak perlu baju-baju mahal dari perancang-perancang ternama, yang penting sopan, syar’i sesuai sunnah.
  2. Kerukunan, kekompakan. Sampe sekarang sih masih pengen pake WO atau EO pas nikahan nanti. Iya, nanti (nungguin kamu). Niatnya sih cuma gak mau ngerepotin keluarga. Biar semua juga bisa ikut menikmati kebahagiaan. Tapi ternyata, dengan gotong royong baik sekeluarga maupun sekampung, acara nikahan juga bisa terlaksana dengan baik. Yaa yang penting semua kompak dan tertib. Ada lagi yang punya tradisi masak sekampung, tetangga-tetangga berdatangan, ngebantuin masak + bawa ayam masing-masing buat si empunya hajat. Nah, ini malah lebih ngeringanin, kan? Kerukunan antar keluarga atau antar tetangga bisa diuji di sini.
  3. Keihklasan. Yang pertama, ikhlas siapa jodoh kita dan kapan waktu yang tepat sesuai pilihan Allah. Terkadang diri ini gak muluk-muluk soal pendamping hidup, tapi pas dikasih yang gak setampan Artis Korea, mikir-mikir. Kadang juga sok yakin bisa menerima laki-laki sederhana, yang penting soleh. Sekalinya didatengin yang masih serabutan, tapi soleh. Butuh pertimbangan. Soal waktu, ada yang pengen cepet ditunda, ada yang mau nunda malah diduluin. Allah Maha Tahu, Allah Maha Baik, Allah Maha Tau Apa yang Terbaik. Ikhlas dulu, berkah kemudian. Ikhlas yang kedua yaitu tentang tamu. Kita harus ikhlas kalo-kalo orang yang kita harapin datang, malah gak datang. Kadang kita kondangan, dengan harapan bisa dikondangin.
  4. Dari beberapa temen yang ngundang + ngasi seragam, gue belajar untuk menabung. Gilaaak, cyiin. Biaya jahit seringnya lebih mahal dari biaya dasar.

Benar memang, bahwa di tiap peristiwa ada hikmahnya. Kondangan jangan sekedar datang, foto-foto dan makan. Rugi! Tapi berdoa, doain yang punya hajat, doain juga diri kita, pelajari segala sesuatunya, ambil yang baik-baiknya. Dan makanlah secukupnya, sering nemuin orang-orang balik kondangan langsung ke warung makan, “masih laper”, katanya. Kalo gue sih gak masalah orang makan banyak di kondangan, asal habis, jangan mubazir!

Salam,

Anggota TTB (Tamu-Tamu Baper)

Iklan

Generasi Instan

Lillahita’ala memang gak serta merta membuat sesuatu menjadi mudah,

tapi sudah pasti menjadi berkah.

Katanya, saat ini kita hidup di zaman serba instan. Mie instan, bubur instan, sampe hubungan yang instan. Menyenangkan memang, untuk beberapa hal terasa sangat menguntungkan. Terutama bagi orang-orang yang mempunyai sedikit waktu, katanya. Padahal, semua orang sama-sama mengalami 24 jam dalam sehari.

Sekarang, mau ke sana kemari tinggal klik-klik hp lalu si Abang ojek atau Sopir online datang, tanpa harus nunggu di pinggiran jalan atau ngantri di loket-loket. Mau makan ini, mau makan itu tapi males keluar? tinggal klik-klik hp lalu makanan yang diinginkan pun datang. Menyenangkan, bukan? Hampir semua serba instan dengan adanya jaringan online. Makanya, kebanyakan orang-orang zaman sekarang lebih rumit ketinggalan hp dari pada ketinggalan salat. Katanya, kalo salat itu cuma urusan dia sama Tuhan, sedangkan hp urusannya bisa berakar-akar ke yang lain. Itu sih katanya.

Yang serba instan memang menyenangkan dan menguntungkan. Tapi gue khawatir, orang-orang zaman sekarang dan selanjutnya akan jadi generasi yang malas berdoa. Faktanya, untuk apa Lillahita’ala, sujud sepertiga malam, kalo datang ke Dimas Kanjeng aja apa-apa bisa langsung digandakan, katanya. Fenomena lainnya, kumpul aja sama si Guru Spiritual, gak perlu baca Quran, duduk-duduk sambil menikmati “asap nikmat” gunda gulana hilang seketika. Sering dengar, “cari yang haram aja susah, apalagi yang halal. Yang penting bisa hidup aja dulu. Berkah itu kerasa kalo udah kaya.” Mungkin ini yang namanya, pinter tapi keblinger.

Zaman instan membuat orang-orang jadi cepat pintar, tapi gak semua jadi benar. Karena ilmu yang didapat juga serba instan. Ngulik-ngulik hp buka akun (yang katanya) dakwah-yakin-share-sok benar. Jadi malas berdoa biar dapet hidayah. *uups

Zaman instan memang gak salah. Gak semua penikmat zaman instan jadi tergilincir dan jadi generasi yang malas berdoa. Masih banyak generasi instan yang jadi lebih baik dengan memanfaatkan produk instan. Lagi-lagi Allah minta kita berpikir, Iqro’!

Lillahita’ala aja dulu, berkah kemudian.

Berusaha-berdoa-berpasrah.