Semua Karena Cinta

Dahulu kala, gue pernah survey beberapa orang untuk bertanya, apa yang dimaksud dengan sahabat?

Hampir semua menjawab dengan inti yang sama, “sahabat adalah orang yang selalu bersama kita saat suka maupun duka, saat bahagia maupun luka. Terbuka, jujur, tidak mudah tersinggung, dapat menerima kita apa adanya hingga ada apanya”.

Dan harapan itu sama dengan harapan gue dulunya. Iya, dulu. Sebelum umur setua ini, hmm mungkin lebih enak didengar sebelum berpikiran sedewasa ini.

Dulu, karena harapan dan anggapan tentang sahabat seperti yang dimaksud sebelumnya. Jadi kalo sahabat main sama orang lain, bete. Saat kita sedih, sahabat sibuk dengan aktifitasnya sendiri, kesel, sumpah serapah. Saat kita bahagia, tapi gak ada sahabat yang bisa diajak main bareng, males, endchat semua percakapan. Saat merasa ada yang ditutup-tutupi, nangis merasa gak ada yang bisa dipercaya lagi. Sampe saat ulang tahun gak diucapin tepat waktu dan dikasih kue, jungkir balik sebel, pas ketemu sok-sok gak peduli.

Muehehe.. ketauan dah alaynya gue.

Tapi makin tua, makin banyak makan asam garam sampe kena maag berkepanjangan. Gue paham, bahwa sahabat itu bukan terbentuk karena kesamaan visi dan misi, bukan karena kebetulan sama-sama, bukan karena satu hobi, bukan pula karena janjian buat nonton seagames bareng, bah! Tapi karena adanya cinta.

Percaya gak percaya, banyak yang satu visi misi tapi gak sahabatan. Banyak yang kebetulan sekelas atau satu kamar kosan, tapi gak sahabatan. Banyak yang satu hobi, ketemuan di kegiatan organisasi satu minggu sekali, tapi gak sahabatan. Bahkan ada yang bareng-bareng saat seagames tapi juga gak sahabatan (if you know what i mean). Karena apa? Karena gak ada cinta. Gak ada ikatan batin untuk saling menjaga atau saling berbagi.

Begitupun selanjutnya, sahabat gak harus selalu sama-sama. Makin dewasa, makin paham bahwa kita akan punya kesibukkan dan kepentingan masing-masing. Semakin gak pengen berbagi kesedihan, takut sahabatnya jadi ikut kepikiran. Semakin jaga jarak, biar paham yang namanya quality time saat ketemuan. Semakin gak nuntut apa-apa, cukup saling mendoakan yang terbaik saja. Begitu lah cinta.

Semakin dewasa, semakin paham. Cinta gak nuntut apa-apa. Termasuk cinta ke sahabat.

Jadi kalo sekarang lo ngerasa diabain sama sahabat lo, coba berpikiran positif, bahwa sahabat lo lagi cinta-cintanya sama lo. Gak pengen ganggu kesibukan lo, gak pengen bawa lo dalam kesedihannya, gak mau tau kabar buruk lo, bukan gak cinta tapi karena doanya selalu pengen lo dalam keadaan yang sehat dan sejahtera.

Uuunch

Iklan

Tentang Hubungan

Sedewasa ini, kita akan paham bahwa cinta saja tidak cukup untuk membuat sebuah hubungan berhasil. Ada banyak faktor yang penting untuk dipertimbangkan. Seperti, pekerjaan, jarak, pola pikir, restu keluarga hingga gaya hidup juga ikut menentukan bertahan atau tidaknya suatu hubungan.

Kamu bukan lagi orang yang bertahan hanya karena alasan sudah dekat dengan keluarganya ataupun sudah terlanjur lama menjalin hubungan.

Di usia ini kita harus lebih rasional. Hubungan yang serius itu bukan cuma tentang mencari persamaan, tapi lebih pada bagaimana menyatukan perbedaan.

105

Ma, saat ini aku benar-benar bahagia, karena aku masih dapat melihat mama setelah bangunku yang kesiangan dan sebelum tidurku yang kemalaman. Aku tau pundak itu lelah, kaki itu rapuh dan hati itu pilu. Namun apa dayaku, ketika mama masih memanjakanku sehingga aku lupa ada waktu yang cepat atau lambat telah menunggu.

Ma, aku terlahir atas doamu. Aku tumbuh atas ridamu.

Maafkan aku. Jika aku lebih percaya bahwa uang sudah cukup membuat mama bahagia. Jika aku lebih berpikir jauh dari mama akan lebih meringankan beban. Jika aku lebih memilih untuk diam karena malu menyusahkan mama. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kecukupanku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kabarku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kesibukanku. Sedangkan mama, memilih untuk jauh lebih rumit memikirkanku dari pada bahagia.

Ma, jangan esok, jangan lusa, jangan pula tahun depan. Jangan lebih dulu dariku.

Aku butuh mama dengan segala keangkuhanku. Maafkan aku.

 

104

Teruntuk sahabatku,

bukan seperti Audi dan Nindy, aku tidak akan bernyanyi untukmu, karena suaraku tidak lebih merdu dari kucing yang beradu.

bukan seperti Nidji, aku tidak akan menggenggam tanganmu untuk menghadapi dunia, karena kita punya tujuan masing-masing.

Aku, akan seperti aku, menunggu sampai kamu mau hadir dan bercerita apapun padaku.

Aku, akan seperti aku, menunggu sampai kamu mau hadir dan minta menghapus air matamu.

Aku, akan seperti aku, menunggu sampai kamu mau hadir dan mengajak menyungging senyum di bibirmu.

Aku, akan seperti aku, menyimpan rindu sampai kau mau menyapaku.