Bawa Aku, Ayah

Ayah, aku lelah jadi dewasa.

Lelah kecewa dan mengecewakan. Lelah berkomitmen, lalu diingkari, hanya karna ada sesuatu yang harus didahului.

Betapa aku sendu, mengingat masa kecil itu. Bermain saja sepuasnya tanpa takut tersakiti. Pulangkan aku pada kenangan masa lalu, yang di dalamnya tidak banyak dihuni rasa sakit, meski goresan-goresan luka bersarang di lutut dan kedua sikuku.

Bawa aku bersenang-senang, Ayah. Bawa lagi aku pada senyum tanpa luka.

Iklan

Semua Karena Cinta

Dahulu kala, gue pernah survey beberapa orang untuk bertanya, apa yang dimaksud dengan sahabat?

Hampir semua menjawab dengan inti yang sama, “sahabat adalah orang yang selalu bersama kita saat suka maupun duka, saat bahagia maupun luka. Terbuka, jujur, tidak mudah tersinggung, dapat menerima kita apa adanya hingga ada apanya”.

Dan harapan itu sama dengan harapan gue dulunya. Iya, dulu. Sebelum umur setua ini, hmm mungkin lebih enak didengar sebelum berpikiran sedewasa ini.

Dulu, karena harapan dan anggapan tentang sahabat seperti yang dimaksud sebelumnya. Jadi kalo sahabat main sama orang lain, bete. Saat kita sedih, sahabat sibuk dengan aktifitasnya sendiri, kesel, sumpah serapah. Saat kita bahagia, tapi gak ada sahabat yang bisa diajak main bareng, males, endchat semua percakapan. Saat merasa ada yang ditutup-tutupi, nangis merasa gak ada yang bisa dipercaya lagi. Sampe saat ulang tahun gak diucapin tepat waktu dan dikasih kue, jungkir balik sebel, pas ketemu sok-sok gak peduli.

Muehehe.. ketauan dah alaynya gue.

Tapi makin tua, makin banyak makan asam garam sampe kena maag berkepanjangan. Gue paham, bahwa sahabat itu bukan terbentuk karena kesamaan visi dan misi, bukan karena kebetulan sama-sama, bukan karena satu hobi, bukan pula karena janjian buat nonton seagames bareng, bah! Tapi karena adanya cinta.

Percaya gak percaya, banyak yang satu visi misi tapi gak sahabatan. Banyak yang kebetulan sekelas atau satu kamar kosan, tapi gak sahabatan. Banyak yang satu hobi, ketemuan di kegiatan organisasi satu minggu sekali, tapi gak sahabatan. Bahkan ada yang bareng-bareng saat seagames tapi juga gak sahabatan (if you know what i mean). Karena apa? Karena gak ada cinta. Gak ada ikatan batin untuk saling menjaga atau saling berbagi.

Begitupun selanjutnya, sahabat gak harus selalu sama-sama. Makin dewasa, makin paham bahwa kita akan punya kesibukkan dan kepentingan masing-masing. Semakin gak pengen berbagi kesedihan, takut sahabatnya jadi ikut kepikiran. Semakin jaga jarak, biar paham yang namanya quality time saat ketemuan. Semakin gak nuntut apa-apa, cukup saling mendoakan yang terbaik saja. Begitu lah cinta.

Semakin dewasa, semakin paham. Cinta gak nuntut apa-apa. Termasuk cinta ke sahabat.

Jadi kalo sekarang lo ngerasa diabain sama sahabat lo, coba berpikiran positif, bahwa sahabat lo lagi cinta-cintanya sama lo. Gak pengen ganggu kesibukan lo, gak pengen bawa lo dalam kesedihannya, gak mau tau kabar buruk lo, bukan gak cinta tapi karena doanya selalu pengen lo dalam keadaan yang sehat dan sejahtera.

Uuunch

Periksa Hati

Jika saat ini kamu merasa iri melihat temanmu berteriak alhamdulillah karena naik jabatan, upload foto lagi liburan, share video bareng suami/istri dan anaknya, beli mobil baru ataupun s2 ke luar negeri, yang salah bukan temanmu. Apakah ia merugikan waktumu? Apakah ia menghabiskan tenagamu? Apakah ia menggunakan sepeser saja uangmu? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan berprasangka buruk soal niat temanmu. Kamu kira ia riya’, kamu anggap dia pencitraan.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai syukur.

Jika saat ini kamu merasa kecewa karena tidak ada yang memuji amalmu, tidak ada yang menghargai kebaikanmu, tidak ada yang mendengarkan nasihatmu yang menurutmu sudah benar. Jangan salahkan temanmu! Apakah mereka mencegahmu berbuat baik? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan menyemai benih harapan pada balasan manusia.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai ketulusan.

Jika kita pahami, bahwa kebanyakan-hampir-seluruhnya penyakit hati sumbernya adalah pada masalah diri yang belum menyelesaikan urusannya dengan ego pribadi. Yang darinya lahir sebuah dunia tak kasat mata, di dalamnya si aku menjadi sentral, yang harus diutamakan, yang harus diistimewakan dan yang harus didahulukan. Membuat diri seolah-olah kuat di luar, namun rapuh di dalam.

Tentang Hubungan

Sedewasa ini, kita akan paham bahwa cinta saja tidak cukup untuk membuat sebuah hubungan berhasil. Ada banyak faktor yang penting untuk dipertimbangkan. Seperti, pekerjaan, jarak, pola pikir, restu keluarga hingga gaya hidup juga ikut menentukan bertahan atau tidaknya suatu hubungan.

Kamu bukan lagi orang yang bertahan hanya karena alasan sudah dekat dengan keluarganya ataupun sudah terlanjur lama menjalin hubungan.

Di usia ini kita harus lebih rasional. Hubungan yang serius itu bukan cuma tentang mencari persamaan, tapi lebih pada bagaimana menyatukan perbedaan.

Sepinya Menjadi Dewasa

Dewasa itu sepi, ya? Kita hanya akan sibuk dalam satu lingkaran. Jika saat ini sedang menjadi seorang pekerja, kita hanya akan dirumitkan oleh tugas-tugas kantor bersamaan dengan lemburnya. Jika saat ini kita sedang menjadi seorang ibu rumah tangga, kita hanya akan dirumitkan oleh tugas-tugas rumahan bersamaan dengan tagihan-tagihannya. Dan jika saat ini kita sedang menjadi seorang ibu-istri-pekerja, kita hanya akan dirumitkan oleh pekerjaan rumah yang dikerjakan di kantor dan pekerjaan kantor yang dikerjakan di rumah.

Beda. Beda kayak kita bocah dulu, dalam satu hari kita bisa melakukan banyak hal, belajar-bermain-berantem-temenan lagi. Dalam satu waktu kita bisa ada di tempat les, tiba-tiba ngacir ke tempat rental ps, nongkrong-nongkrong di tempat jajan, kalau kesorean baru dicariin.

Kalau masih bocah nongkrong sama orang tua bilangnya belajar, tapi kalau udah dewasa nongkrongnya sama bocah bilangnya gak sesuai. Makin dewasa makin sepi, kan? Kita akan bergaul dengan orang-orang di lingkaran yang berbatas usia dan pekerjaan.

Makin dewasa makin sepi. Ada masa dimana pandangan sudah tidak luas lagi. Ada masa dimana telinga sudah tidak awas lagi. Ada masa dimana kaki sudah tidak gagah lagi. Kemana-mana susah, apa-apa sulit. Makin dewasa makin sepi.