Pembunuh Berdarah Dingin

Wuiiih.. Serem ya?

Sereman mana sama pembunuh berdarah tinggi? #candadeeng

Sebenarnya predikat itu cukup membuat hati dongkol, rasa-rasanya gue ini nakutin banget. Padahal kalo ngaca, emang iya sih! #Bah

Entah siapa yang memulai dan didasari oleh apa mereka mempredikati diri ini dengan julukan tersebut. Yang sempat terdengar dan ditanyakan secara langsung, katanya karena beberapa alasan ini:

  1. Diam-diam merhatiin. Sepanjang percakapan, gue dinilai dingin, susah diajak diskusi, sedikit angkuh, dan gak peduli. Tapi setelah percakapan riuh selesai, gue baru ambil kesempatan buat ngomong dan menjabarkan satu per satu secara terperinci. Itu sih kata orang-orang yang pernah atau sering ngajak gue ngomong.
  2. Tontonan favoritnya film-film pembantaian. Di saat temen nonton gue pada muntah-muntah lihat kulit manusia disobek-sobek, kedua lapisan bibir dijahit, tangan diblender, jari-jari digantungin, dan bola mata dipanggang. Gue malah melotot dan sangat menikmati adegan tersebut. Sempet ada yang bilang, apa yang biasanya ditonton itu lah kepribadiannya.
  3. Suka sunyi tapi gak suka sepi. Gak pengen ditinggal sendirian, tapi gak asik diajakin ngobrol. Yaa mentok-mentok, ada tv lah. Biar gambarnya nyala-nyala, tapi suaranya disenyapin.
  4. Pendiamnya keterlaluan. Kalau di rumah sering dibilang anak kos, kalau lagi diajak jalan-jalan sering dibilang anak tetangga.

Cukup terganggu dengan alasan-alasan di atas. Sudah sempet introspeksi, pengen berubah, tapi sepertinya sudah jadi karakter. Dan si predikat beserta alasan-alasan ini lah yang membuat gue kuper alias kurang pergaulan.

Ada gebetan yang akhirnya berani ngedeketin gue setelah lulus sekolah, padahal dia naksir dari awal masuk sekolah. Katanya, perlu banyak merhatiin dan nanya-nanya dulu tentang gue itu gimana biar gak apes dicuekin.

Ada sahabat yang kalau mau curhat beraninya cuma lewat telpon, sms, chat, atau e-mail. Kalau ngomong langsung suaranya gak kedengeran, kadang-kadang cenderung galak, katanya.

Bahkan, ada adik yang cuma saat mentok ngerjain PR Bahasa Inggris atau ngegambar baru berani minta tolong gue.  Nakutin, alasannya.

Padahal gue sendiri pengen bisa dekat dengan banyak orang, pengen bisa nunjukin rasa sayang dan cinta gue secara langsung. Tapi kaku dan cenderung malu. Lebih baik diam-diam bantuin, lebih baik bikin tulisan romantis ketimbang ngungkapin secara langsung, lebih baik kerjain sesuatu sebelum diperintah, lebih baik ngeberesin sendiri dari pada ribet minta tolong orang lain, itu sih menurut gue.

Dan gue, merasa sangat diistimewakan dengan adanya blog atau sejenisnya. Karena gue lebih leluasa jadi apadanya gue melalui tarian baku jari-jemari di lembaran kertas elektrik.

Gak semua bisa memahami keadaan ini, ada yang bilang aneh, terlalu berdrama, alay, dan pikiran negatif lainnya.

Terserah dengan si pembunuh berdarah dingin,

tapi gue bukan “Hello Kitty” yang cantik tapi ngerebut suami orang

gue juga bukan si Jessica, yang ngajak ngopi tapi campur sianida

Lebih tepatnya, gue si pemendam rasa, pembeku kata dan si pencinta kamu apa adanya. #ciee

Iklan

Dimengerti

Ada benarnya bahwa kita tidak perlu meminta dimengerti oleh orang lain. Kita dan mereka, sama-sama individu yang punya tingkah dan kepentingan berbeda. Setiap manusia akan memiliki sudut pandangnya sendiri dalam melihat orang lain. Pun mereka terhadap kita.

Tak perlu bersusah payah membuat mereka mengerti. Tak perlu meminta dipahami dengan membuang harga diri.

Sebab suatu hari, kita akan bertemu dengan orang-orang yang tanpa kita minta akan mencoba memahami. Orang-orang yang dengan senang hati berusaha mengerti. Meski tentu tak pernah sepenuhnya, tapi setidaknya mereka selalu berupaya.

Suatu hari kita akan bertemu dengan orang-orang yang selalu mempertanyakan perihal keadaan kita yang sebenarnya. Bukan sekedar apa yang dapat dilihat mata.

Tak perlu memaksa. Kadang, bahkan kita tak perlu mencari, sebab mereka datang sendiri.

Berhentilah meminta dimengerti. Berjalanlah dengan penuh harga diri.