Takut, Sayang

Aku menyayangi seseorang, hingga takut.

Takut ditinggalkan, takut kehilangan, takut tidak diacuhkan, takut sakit, takut sedih. Aku menjadi manusia yang paling khawatir, bertanya-tanya tentangnya, setiap hari.

Sampai aku merasa terjatuh, padahal semuanya baik-baik saja.

Sudah benarkah sayangku?

Iklan

Kerja Padat-Ibadah Giat

Sebab rezeki telah dijaminkan, maka makna kerja sebenarnya adalah pengabdian seutuhnya kepada Allah Subhanahu wata’ala

Ciee anak kantoran, yang gak bisa berpaling dari layar berwarna selebar talenan. Kerja memang pusing, ya? Jumlah kas masuk dan keluar gak seimbang, ngerepotin. Administrasi yang berantakan dan gak jelas kapan datangnya, ngeribetin. Apalagi saat atasan ngajak rapat sedangkan pacar sibuk nanya, “lagi apa? kok chat aku dibaca aja? kok gak dibales sih? udah deh, putus!” Jleeeb ah!

Beda lagi cerita anak wiraswasta, yang tokonya udah diketok dari subuh, handphonenya berdering tiap waktu. Pelanggan banyak nanya, nyusahin. Pelanggan minta diskon, malesin. Pelanggan banyak nanya, minta diskon dan gak jadi beli, ngedongkolin!

Segitunya pekerjaan mewarnai hidup kita, ya? Kadang makan jadi telat, cuma karna kerjaan padat, eh si laptop ngadat. Kadang pasangan dikacangin, karna ada meeting, yang kitanya cuma jadi pemeran pendamping. Dan gak jarang ibadah pun dilalain, cuma karna kerjaan yang belum kelar, dan atasan lagi ngawasin.

Nah, ini dia nih yang bahaya. Kadang kita lebih takut sama atasan ketimbang sama Yang Maha Tinggi. Lebih takut gak digaji, padahal katanya percaya sama Yang Maha Pengasih. Lebih takut kerja gak maksimal, gak dapet promosi, ibadah dinanti-nanti, kan yang penting hati, katanya.

Padahal, sebelum kerja, berdoanya sama Allah, kenapa udah kerja, takutnya sama Bos?

Sebelum kerja, ngeluh-ngeluh pengen kerja. Dikasi kerjaan, bukannya maksimalin ibadah, malah bilang, “nantilah, masih cape banget”. Harus banget kah, Allah teriak-teriak di telinga kita, “kalo napas lu, Gue entar-entar, gimana?

Nah, loh!

Profesional itu penting, dalam urusan kerja, lebih-lebih soal ibadah. Semakin dikasih banyak kerjaan, semakin banyak sujud, berterima kasih dan memohon perlindungan.

Semoga kita senantiasa menjadi pekerja yang menghambakan diri kepada Allah, ya.

 

Ketuk Hati Fatia

Seperti tahun kemarin, malam ini di pesantren kami juga diadakan Nihai Show atau panggung gembira. Yang membuat beda, malam ini kami sebagai santri tingkat akhir yang harus menampilkan pertunjukannya.

Saat semua santri penampil bersiap-siap, aku melihat Fatia duduk saja di ujung tangga. Kucoba mendekatinya, “Fatia, kenapa belum siap-siap? Tinggal dua jam lagi dan kita harus tampil.”

“Aku malas, di sana ada Erika. Nanti saja, kalau dia sudah selesai dan keluar, aku akan ke sana dan bersiap-siap”, jawab Fatia kesal.

“Memangnya ada masalah apa kamu sama Erika? Selama hampir satu tahun ini aku perhatikan, kamu tidak pernah lagi ingin dekat bahkan hanya mendengar nama Erika. Selama muhadatsah, muhadhoroh dan kegiatan-kegiatan rutin lainnya, kamu selalu mencari kesempatan untuk menjauh saat ada Erika di dekatmu.”

Belum selesai aku berbicara, Fatia memotongnya, “aku tidak menyukainya”, bentak Fatia.

Aku bingung dengan sikap Fatia, namun saat aku berdiri dan hendak meninggalkan Fatia. Aku melihat Ummi Nazla. Ummi memintaku untuk duduk kembali mendekati Fatia.

“Maaf, tadi Ummi tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Boleh Ummi ikut bergabung?”

Aku hanya melirik pada Fatia, seolah memberi tanda bahwa Fatia lah yang berhak menjawabnya dan Fatia mengangguk.

Ummi Nazla memegang tangan kami berdua, “sebenarnya ada apa? tadi tidak sengaja Ummi mendengar kata “aku tidak menyukainya”, boleh Ummi tau siapa dan kenapa?”

Aku tidak mengambil sikap apapun, sampai setelah hening yang cukup panjang, Fatia menjawabnya, “saya tidak menyukai Erika, Ummi. Tapi maaf, Ummi, saya tidak bisa menyebutkan alasannya, karena saya pikir itu adalah salah satu aibnya.”

Ummi Nazla tersenyum, “iya, tidak perlu, jangan diceritakan jika memang itu yang terbaik. Tapi jika Ummi boleh tau, sejak kapan dan sampai kapan kamu bersikap seperti ini kepadanya?”

“Hampir satu tahun ini, Ummi dan saya pikir untuk selamanya.”

“Subhanallah”, dzikir Ummi. “Boleh Ummi menanggapi?”

“Iya, Ummi”, balas Fatia datar.

“Terlepas apapun yang telah dilakukan oleh Erika terhadapmu, kesal, jengkel dan kecewa itu memang tanggapan yang paling manusiawi. Tapi sampai kapan? Selamanya? Kamu pernah mendengar Hadist Riwayat Muslim yang mengatakan, “tidaklah halal bagi seorang muslim untuk meninggalkan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya juga saling bertemu, tetapi mereka tidak saling mengacuhkan satu sama lain. Yang paling baik di antara keduanya adalah yang lebih dulu memberi salam.” Tau itu?”

Kami mengangguk

Ummi melanjutkan pembicaraannya, “tidak ada keuntungan apapun dari menyimpan kesal, jengkel dan kecewa berkepanjangan selain rasa sakit. Ketika kita menyimpan keburukan untuk orang lain, ketika itu juga kita sedang melukai diri sendiri. Terkadang yang menyakitkan itu bukan karena kita disakiti, tapi karena kita menyakiti diri sendiri dengan merasa tersakiti. Apa kamu sudah mencoba membahas persoalannya dengan Erika?”

“Tidak perlu, Ummi”, ketus Fatia.

“Anakku, kamu pasti paham bahwa manusia adalah tempatnya salah, tempatnya khilaf. Mungkin persoalan yang kamu maksud, yang kamu besar-besarkan, tidak sama dengan yang dimaksud orang lain. Maka bermusyawarahlah, seperti yang diriwayatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “tidak satu kaum pun yang selalu melakukan musyawarah melainkan akan ditunjukkan jalan paling benar dalam perkara mereka”.”

“Dia tidak pernah meminta maaf, Ummi. Bagaimana lagi untuk membahasnya”.

Ummi tersenyum, “baiklah, anggap saja Erika memang bersalah. Namun bagaimana cara dia meminta maaf? jika kesempatan untuk berdekatan saja selalu dihindari. Mungkin saja selama ini, dia berusaha mencari kesempatan itu. Atau mungkin dia sedang mempersiapkan diri dan sesuatu untuk memohon maaf. Karena kita tau, memohon maaf itu tidak mudah, maka berilah maaf terlebih dahulu. Jika kamu sudah memaafkannya dengan ikhlas, hatimu pasti akan tenang dan dapat menerima kehadirannya lagi. Seperti dalam surah Al-Baqarah: 263, “perkataan yang baik dan pemberiaan maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”. Ummi paham tentang anak-anak Ummi, kalian semua anak baik. Ummi tinggal dulu”.

Ummi Nazla pergi dan meninggalkan kami berdua, tiba-tiba saja Fatia berdiri dan menarik tanganku, “ayo kita bersiap-siap, tapi setelah itu, temani aku menemui Erika ya.”

Aku tersenyum mengangguk.

Maaf

Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan.. tapi hanya yang pemberani yang mau mengakui..

(Persahabatan, Sherina Munaf)

Manusia mana yang tidak pernah bersalah? bahkan dalam menyampaikan kebaikan pun manusia bisa salah. Orang baik bukan yang tidak pernah melakukan salah, tapi yang paham tentang kesalahannya, meminta maaf dan kemudian memperbaikinya.

Memohon maaf memang kadang tidak menjadikan keadaan balik seperti semula. Tidak juga membuat orang lain melupakan kesalahan-kesalahan kita seketika. Tapi memohon maaf lebih pada cara kita memperbaiki hati. Permohonan maaf yang tulus itu pasrah, dimaafkan atau tidak, baik lagi atau tidak, itu bukan lagi urusannya. Urusan pemohon maaf selanjutnya adalah antara dirinya, hatinya dan kehidupannya selanjutnya.

Menjadi pemohon maaf yang tulus itu juga tidak mudah memang. Terkadang kita memohon maaf hanya agar masalah tidak berlanjut saja. Terkadang juga karena ingin membuat orang lain merasa bersalah.

Memohon maaf tidak akan menjatuhkan harga diri seseorang, karena tanpa disadari pasti ada kesalahan yang pernah kita lakukan, meski kecil dan dapat dimaklumi.

Memohon maaf itu ringan, dimana kita tidak lagi menjadi egois karena telah introspeksi diri. Memohon maaf itu kebahagiaan, dimana hati tidak lagi menyimpan dengki. Memohon maaf itu sehat, dimana pikiran buruk tidak lagi bersarang dan mengganggu tidur malam.

Memohon maaflah yang tulus, yang bukan karena “ingin dia begini” tapi “ingin aku begini”.

108

Kini takkan ku ulangi,

bukan tak sempat, namun terlanjur berkarat,

bagaimana mungkin kupaksakan, yang namanya besi sudah berkarat, terkena air pun ia rapuh,

bayangkan saja jika ku genggam, bisa-bisa menjadi abu,

begitu lah hatiku.

 

Aku tak ingin lagi,

bukan karena tak ada lagi, tapi sudah terlalu perih,

tiada mungkin kutindaklanjuti, semuanya sudah tercabik-cabik,

tinggal kau sentuh dan semuanya terkoyak,

begitu lah hatiku.

 

Biar saja begini,

aku sendiri bersedih.

“Kok gue gak?”

x : “dia pernah gak naik kelas, waktu SD. Sekarang kok bisa jadi pimpinan di perusahaan A.”

x : “dulu dia gendut banget, gak jauh beda sama rendaman bedcover. Sekarang seksi, bodinya udah kayak jembatan kelok sembilan.”

Si A kok bisa sukses. Si B kok bisa sukses. Kok gue gak?

Gue yakin, semua orang ingin sukses. Semua orang punya maksud sukses dan cara menjadi sukses masing-masing. Gak bisa selalu sama, gak harus disama-samain juga. Ada yang merasa cukup sukses sebagai guru yang mencetak murid-murid berprestasi. Ada yang merasa cukup sukses sebagai pedagang yang menjual barang dagangannya sedikit lebih murah dari lainnya, tapi bisa bikin ibu-ibu senang. Ada yang cukup merasa sukses memiliki motor Legenda dengan lampu sein bunyi “tiit.. tiit.. tiit..”. Ada yang cukup merasa sukses menjadi imam keluarga yang sakinah-mawaddah-warrahmah.

Fenomena yang gue lewati sebagai anak ’90an, sebagaimana umumnya, di umur-umur segini ada yanglagi  galau karena masih jadi pengangguran. Ada yang ribet karena belum dilamar-lamar. Sedangkan beberapa yang lain sudah ada yang gendong anak atau sudah jadi pengusaha dengan beberapa outlet.

“Kok mereka bisa enak, bisa sukses gitu? kok gue gak?”

Menurut gue, yang membedakan orang sukses dengan orang yang belum sukses itu bukan hanya perkara “kurang usaha”, bukan hanya perkara “kurang berdoa”. Tapi juga perkara kurang sabar.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dalam Q.S. Al Baqarah: 153, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Seringnya sebagai manusia kita hanya penting melihat dan menilai hasil dari orang lain. Tanpa sedikit mengulik proses sebelumnya. Siapa yang tau sesabar apa si seksi saat harus dibilang dan dilihat gendut? Siapa yang tau sesabar apa si pemilik perusahaan saat dagangannya gak laku bahkan bangkrut? Sedang kita sibuk bertanya dan mengeluh, “kok gue belum sukses? kok gue belum sesukses dia?”

Sukses itu kita yang tentuin. Apakah kita sudah cukup sabar dengan ketentuan-Nya?