Step by Step

Bila diri ingin berubah, berubahalah sedikit demi sedikit, tak perlu sekaligus.

Memang konsep berubah itu adalah keseluruhan, bukan perkataan saja, bukan pikiran saja, atau bukan penampilan saja. Tapi biarkan perlahan, sedikit demi sedikit, yang penting istiqamah.

Iman manusia itu naik-turun, tergantung seberapa perlu Ia dengan Rabbnya.

Takutnya, hari ini kita galau, lalu niat berubah, berhijab syar’i, salat lima waktu plus sunnah rawatibnya, puasa, mengaji, dan melakukan kegiatan positif lainnya. Esoknya demam, tertinggal lah satu per satu ibadahnya. Berkurang lagi imannya.

Seraya berubah, cari tau lagi ilmunya. Agar niat berubah tak hanya karna tren saja. Berubah lah hanya karena Allah, bukan agar segera dapatkan harta melimpah atau segera dipertemukan dengan laki-laki saleh.

Karena rezeki, jodoh dan maut adalah rahasia Allah dan merupakan ketentuan mutlak. Maka tugas kita hanya berpasrah saja. Ikuti alurnya.

Berubah lah hanya karena Allah. Harta halal, jodoh saleh, ilmu bermanfaat, dan teman-teman baik, itu adalah efek sampingnya.

 

 

Iklan

Perihal Hijrah

Kamu tekun menghafal Alquran beserta tafsirannya, sedang aku tidak. Aku tetap mendukungmu.

Kamu cantik dengan hijab syar’i atau tampan dengan jenggot yang rindang, sedang aku tidak. Aku tetap mendukungmu.

Kamu rutin mengikuti pengajian, sedang aku tidak. Aku tetap mendukungmu.

Kamu bahagia berkumpul dengan orang-orang saleh/salehah, sedang aku tidak. Aku tetap mendukungmu.

Aku sahabatmu. Soal prinsip, aku anggap itu komitmen antara hati dan logika di jiwa kita masing-masing. Aku mendukungmu, aku mendoakanmu dan aku pun ikut berharap bisa lebih baik pun seperti dan bersamamu. Tapi jika kamu memilih menutup diri dan mengkerdilkan tiap pendapatku. Memilih percaya pada kitab-kitab elektronikmu lalu meremehkan pandanganku. Memilih satu pihak dan menutup mata serta logika untuk lainnya. Ada baiknya, periksa dulu hatimu.

Perihal hijrah, adalah memperlajari, memahami, memaknai, dan ikut andil dalam hal-hal yang lebih baik, terbaik dan benar tentunya.

Perihal hijrah, adalah mengajak dan bermusyawarah. Bukan perihal saya benar-anda salah-lalu tinggalkan.

***

Narasi yang entah lah. Cukup miris saat sahabat/saudara menyatakan hijrah, tapi mengkerdilkan pendapat orang lain, mempercayai hanya satu sisi, mempelajari hanya satu sumber, menutup diri, merasa paling benar, tidak bermusyawarah/curhat, lalu berlalu dan meninggalkan.

Jangan Minta

Jangan minta orang lain untuk tidak mengganggumu saat proses memperbaiki diri. Bagaimana mungkin tumbuhan membenci angin sedangkan ia sangat membutuhkannya untuk proses pertumbuhan.

Sebagaimana Q.S. Al-Hijr: 22,

Dan kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan kami turunkan hujan dari langit, lalu kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.

Bukankah proses memperbaiki diri atau yang sering dikenal dengan hijrah itu adalah proses pengenalan dan perubahan dari yang salah menjadi benar, dari yang jelek menjadi baik. Lalu untuk apa repot-repot meminta orang lain untuk tidak begini, untuk tidak begitu hanya agar imanmu tidak goyah, lalu menyakitinya.

Bukankah tidak akan ada orang baik jika tidak orang jahat?

Bukankah tidak masalah walau sendiri jika di jalan yang benar?

Jika kamu patah hati, jangan minta orang yang mematahkan hatimu untuk pergi, karena move on itu tergantung kemauanmu sendiri. Sama halnya jika kamu hijrah, jangan minta orang lain untuk tidak mengajakmu berbuat salah, karena berada di jalan yang benar itu tergantung keyakinanmu sendiri.

Sebagaimana Q.S. Al-Qashash: 56

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.

jadi, sampaikan lah kebeneran dengan cara yang baik, berhijrahlah dengan hati yang baik, maktubkan niat semata-mata karena Allah dan untuk peringatan pada diri sendiri. Semoga kita senantiasa dalam kebaikan.