Lagi-lagi Rindu

Aku pikir, siang cukup mempermainkan rinduku. Di keramaian, aku merasa sendiri. Namun ternyata, malam semakin menyudutkanku. Makin sunyi, rinduku makin bergemuruh.

Dulu, aku sangat memuji malam. Bersamanya rinduku terobati melalui pertemuan singkat di meja makan. Namun sekarang, aku geram pada malam. Saat terpejam, bahkan mimpi pun enggan menerkam.

Saat itu, aku merindukan malam. Dimana lelahku dan lelahnya hanya sekadar cerita, karena ia hanyut dalam dekap canda yang lekat. Namun saat ini, sepertinya malam merindukanku, sedang aku sibuk menyeka air mata yang turun deras bersama doa.

Ini tentang malam yang membersamai rindu teramat dalam, padamu, Yah.

 

Iklan

Apa Kabar?

Lagi kangen banget ditanya apa kabar? Maksudnya apa kabar yang tulus, yang gak diiringi dengan modal dusta semata.

Maksudnya, apa kabar yang tulus aja. Yang muncul tiba-tiba bukan karena baru posting apa-apa. Yang muncul tiba-tiba bukan karena nongol di mimpi atau hanya di benak saja. Yang muncul tiba-tiba bukan karena masalah hidup, yang kamu pernah sangat berarti atau sebaliknya.

Maksudnya, apa kabar yang tulus aja. Yang bukan karena penasaran, tapi karena peduli.

Yaa.. Kalau belum dapat pertanyaan apa kabar, coba lah memberikan pertanyaan apa kabar, walaupun jawabannya cuma “sehat”, “alhamdulillah”, atau “emot senyum aja”. Pertanyaan apa kabar itu menyejukkan. Yang menunjukkan bahwa keadaan seseorang itu penting, paling tidak bagimu.

Dimengerti

Ada benarnya bahwa kita tidak perlu meminta dimengerti oleh orang lain. Kita dan mereka, sama-sama individu yang punya tingkah dan kepentingan berbeda. Setiap manusia akan memiliki sudut pandangnya sendiri dalam melihat orang lain. Pun mereka terhadap kita.

Tak perlu bersusah payah membuat mereka mengerti. Tak perlu meminta dipahami dengan membuang harga diri.

Sebab suatu hari, kita akan bertemu dengan orang-orang yang tanpa kita minta akan mencoba memahami. Orang-orang yang dengan senang hati berusaha mengerti. Meski tentu tak pernah sepenuhnya, tapi setidaknya mereka selalu berupaya.

Suatu hari kita akan bertemu dengan orang-orang yang selalu mempertanyakan perihal keadaan kita yang sebenarnya. Bukan sekedar apa yang dapat dilihat mata.

Tak perlu memaksa. Kadang, bahkan kita tak perlu mencari, sebab mereka datang sendiri.

Berhentilah meminta dimengerti. Berjalanlah dengan penuh harga diri.

 

Periksa Hati

Jika saat ini kamu merasa iri melihat temanmu berteriak alhamdulillah karena naik jabatan, upload foto lagi liburan, share video bareng suami/istri dan anaknya, beli mobil baru ataupun s2 ke luar negeri, yang salah bukan temanmu. Apakah ia merugikan waktumu? Apakah ia menghabiskan tenagamu? Apakah ia menggunakan sepeser saja uangmu? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan berprasangka buruk soal niat temanmu. Kamu kira ia riya’, kamu anggap dia pencitraan.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai syukur.

Jika saat ini kamu merasa kecewa karena tidak ada yang memuji amalmu, tidak ada yang menghargai kebaikanmu, tidak ada yang mendengarkan nasihatmu yang menurutmu sudah benar. Jangan salahkan temanmu! Apakah mereka mencegahmu berbuat baik? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan menyemai benih harapan pada balasan manusia.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai ketulusan.

Jika kita pahami, bahwa kebanyakan-hampir-seluruhnya penyakit hati sumbernya adalah pada masalah diri yang belum menyelesaikan urusannya dengan ego pribadi. Yang darinya lahir sebuah dunia tak kasat mata, di dalamnya si aku menjadi sentral, yang harus diutamakan, yang harus diistimewakan dan yang harus didahulukan. Membuat diri seolah-olah kuat di luar, namun rapuh di dalam.

Tentang Hubungan

Sedewasa ini, kita akan paham bahwa cinta saja tidak cukup untuk membuat sebuah hubungan berhasil. Ada banyak faktor yang penting untuk dipertimbangkan. Seperti, pekerjaan, jarak, pola pikir, restu keluarga hingga gaya hidup juga ikut menentukan bertahan atau tidaknya suatu hubungan.

Kamu bukan lagi orang yang bertahan hanya karena alasan sudah dekat dengan keluarganya ataupun sudah terlanjur lama menjalin hubungan.

Di usia ini kita harus lebih rasional. Hubungan yang serius itu bukan cuma tentang mencari persamaan, tapi lebih pada bagaimana menyatukan perbedaan.