Ketuk Hati Fatia

Seperti tahun kemarin, malam ini di pesantren kami juga diadakan Nihai Show atau panggung gembira. Yang membuat beda, malam ini kami sebagai santri tingkat akhir yang harus menampilkan pertunjukannya.

Saat semua santri penampil bersiap-siap, aku melihat Fatia duduk saja di ujung tangga. Kucoba mendekatinya, “Fatia, kenapa belum siap-siap? Tinggal dua jam lagi dan kita harus tampil.”

“Aku malas, di sana ada Erika. Nanti saja, kalau dia sudah selesai dan keluar, aku akan ke sana dan bersiap-siap”, jawab Fatia kesal.

“Memangnya ada masalah apa kamu sama Erika? Selama hampir satu tahun ini aku perhatikan, kamu tidak pernah lagi ingin dekat bahkan hanya mendengar nama Erika. Selama muhadatsah, muhadhoroh dan kegiatan-kegiatan rutin lainnya, kamu selalu mencari kesempatan untuk menjauh saat ada Erika di dekatmu.”

Belum selesai aku berbicara, Fatia memotongnya, “aku tidak menyukainya”, bentak Fatia.

Aku bingung dengan sikap Fatia, namun saat aku berdiri dan hendak meninggalkan Fatia. Aku melihat Ummi Nazla. Ummi memintaku untuk duduk kembali mendekati Fatia.

“Maaf, tadi Ummi tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Boleh Ummi ikut bergabung?”

Aku hanya melirik pada Fatia, seolah memberi tanda bahwa Fatia lah yang berhak menjawabnya dan Fatia mengangguk.

Ummi Nazla memegang tangan kami berdua, “sebenarnya ada apa? tadi tidak sengaja Ummi mendengar kata “aku tidak menyukainya”, boleh Ummi tau siapa dan kenapa?”

Aku tidak mengambil sikap apapun, sampai setelah hening yang cukup panjang, Fatia menjawabnya, “saya tidak menyukai Erika, Ummi. Tapi maaf, Ummi, saya tidak bisa menyebutkan alasannya, karena saya pikir itu adalah salah satu aibnya.”

Ummi Nazla tersenyum, “iya, tidak perlu, jangan diceritakan jika memang itu yang terbaik. Tapi jika Ummi boleh tau, sejak kapan dan sampai kapan kamu bersikap seperti ini kepadanya?”

“Hampir satu tahun ini, Ummi dan saya pikir untuk selamanya.”

“Subhanallah”, dzikir Ummi. “Boleh Ummi menanggapi?”

“Iya, Ummi”, balas Fatia datar.

“Terlepas apapun yang telah dilakukan oleh Erika terhadapmu, kesal, jengkel dan kecewa itu memang tanggapan yang paling manusiawi. Tapi sampai kapan? Selamanya? Kamu pernah mendengar Hadist Riwayat Muslim yang mengatakan, “tidaklah halal bagi seorang muslim untuk meninggalkan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya juga saling bertemu, tetapi mereka tidak saling mengacuhkan satu sama lain. Yang paling baik di antara keduanya adalah yang lebih dulu memberi salam.” Tau itu?”

Kami mengangguk

Ummi melanjutkan pembicaraannya, “tidak ada keuntungan apapun dari menyimpan kesal, jengkel dan kecewa berkepanjangan selain rasa sakit. Ketika kita menyimpan keburukan untuk orang lain, ketika itu juga kita sedang melukai diri sendiri. Terkadang yang menyakitkan itu bukan karena kita disakiti, tapi karena kita menyakiti diri sendiri dengan merasa tersakiti. Apa kamu sudah mencoba membahas persoalannya dengan Erika?”

“Tidak perlu, Ummi”, ketus Fatia.

“Anakku, kamu pasti paham bahwa manusia adalah tempatnya salah, tempatnya khilaf. Mungkin persoalan yang kamu maksud, yang kamu besar-besarkan, tidak sama dengan yang dimaksud orang lain. Maka bermusyawarahlah, seperti yang diriwayatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “tidak satu kaum pun yang selalu melakukan musyawarah melainkan akan ditunjukkan jalan paling benar dalam perkara mereka”.”

“Dia tidak pernah meminta maaf, Ummi. Bagaimana lagi untuk membahasnya”.

Ummi tersenyum, “baiklah, anggap saja Erika memang bersalah. Namun bagaimana cara dia meminta maaf? jika kesempatan untuk berdekatan saja selalu dihindari. Mungkin saja selama ini, dia berusaha mencari kesempatan itu. Atau mungkin dia sedang mempersiapkan diri dan sesuatu untuk memohon maaf. Karena kita tau, memohon maaf itu tidak mudah, maka berilah maaf terlebih dahulu. Jika kamu sudah memaafkannya dengan ikhlas, hatimu pasti akan tenang dan dapat menerima kehadirannya lagi. Seperti dalam surah Al-Baqarah: 263, “perkataan yang baik dan pemberiaan maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”. Ummi paham tentang anak-anak Ummi, kalian semua anak baik. Ummi tinggal dulu”.

Ummi Nazla pergi dan meninggalkan kami berdua, tiba-tiba saja Fatia berdiri dan menarik tanganku, “ayo kita bersiap-siap, tapi setelah itu, temani aku menemui Erika ya.”

Aku tersenyum mengangguk.

Iklan

Maaf

Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan.. tapi hanya yang pemberani yang mau mengakui..

(Persahabatan, Sherina Munaf)

Manusia mana yang tidak pernah bersalah? bahkan dalam menyampaikan kebaikan pun manusia bisa salah. Orang baik bukan yang tidak pernah melakukan salah, tapi yang paham tentang kesalahannya, meminta maaf dan kemudian memperbaikinya.

Memohon maaf memang kadang tidak menjadikan keadaan balik seperti semula. Tidak juga membuat orang lain melupakan kesalahan-kesalahan kita seketika. Tapi memohon maaf lebih pada cara kita memperbaiki hati. Permohonan maaf yang tulus itu pasrah, dimaafkan atau tidak, baik lagi atau tidak, itu bukan lagi urusannya. Urusan pemohon maaf selanjutnya adalah antara dirinya, hatinya dan kehidupannya selanjutnya.

Menjadi pemohon maaf yang tulus itu juga tidak mudah memang. Terkadang kita memohon maaf hanya agar masalah tidak berlanjut saja. Terkadang juga karena ingin membuat orang lain merasa bersalah.

Memohon maaf tidak akan menjatuhkan harga diri seseorang, karena tanpa disadari pasti ada kesalahan yang pernah kita lakukan, meski kecil dan dapat dimaklumi.

Memohon maaf itu ringan, dimana kita tidak lagi menjadi egois karena telah introspeksi diri. Memohon maaf itu kebahagiaan, dimana hati tidak lagi menyimpan dengki. Memohon maaf itu sehat, dimana pikiran buruk tidak lagi bersarang dan mengganggu tidur malam.

Memohon maaflah yang tulus, yang bukan karena “ingin dia begini” tapi “ingin aku begini”.

Pengingat yang Baik

Saya bukan seorang yang pendendam, hanya seorang pengingat yang baik.

Rata-rata pemarah akan berkata demikian, untuk menyakiti dirinya sendiri.

Yakin ingat taubat saat tinggal salat?

Yakin ingat minta maaf saat nyusahin orang tua?

Yakin ingat berterima kasih saat dibantuin sahabat?

Yakin ingat kalau diri sendiri tempatnya salah?

Jadi lah pemarah yang bijak, yang mengoreksi diri, bukan membenam benci.

Jadi lah pengingat yang baik, agar kita bersyukur.

Periksa Hati

Jika saat ini kamu merasa iri melihat temanmu berteriak alhamdulillah karena naik jabatan, upload foto lagi liburan, share video bareng suami/istri dan anaknya, beli mobil baru ataupun s2 ke luar negeri, yang salah bukan temanmu. Apakah ia merugikan waktumu? Apakah ia menghabiskan tenagamu? Apakah ia menggunakan sepeser saja uangmu? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan berprasangka buruk soal niat temanmu. Kamu kira ia riya’, kamu anggap dia pencitraan.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai syukur.

Jika saat ini kamu merasa kecewa karena tidak ada yang memuji amalmu, tidak ada yang menghargai kebaikanmu, tidak ada yang mendengarkan nasihatmu yang menurutmu sudah benar. Jangan salahkan temanmu! Apakah mereka mencegahmu berbuat baik? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan menyemai benih harapan pada balasan manusia.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai ketulusan.

Jika kita pahami, bahwa kebanyakan-hampir-seluruhnya penyakit hati sumbernya adalah pada masalah diri yang belum menyelesaikan urusannya dengan ego pribadi. Yang darinya lahir sebuah dunia tak kasat mata, di dalamnya si aku menjadi sentral, yang harus diutamakan, yang harus diistimewakan dan yang harus didahulukan. Membuat diri seolah-olah kuat di luar, namun rapuh di dalam.

105

Ma, saat ini aku benar-benar bahagia, karena aku masih dapat melihat mama setelah bangunku yang kesiangan dan sebelum tidurku yang kemalaman. Aku tau pundak itu lelah, kaki itu rapuh dan hati itu pilu. Namun apa dayaku, ketika mama masih memanjakanku sehingga aku lupa ada waktu yang cepat atau lambat telah menunggu.

Ma, aku terlahir atas doamu. Aku tumbuh atas ridamu.

Maafkan aku. Jika aku lebih percaya bahwa uang sudah cukup membuat mama bahagia. Jika aku lebih berpikir jauh dari mama akan lebih meringankan beban. Jika aku lebih memilih untuk diam karena malu menyusahkan mama. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kecukupanku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kabarku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kesibukanku. Sedangkan mama, memilih untuk jauh lebih rumit memikirkanku dari pada bahagia.

Ma, jangan esok, jangan lusa, jangan pula tahun depan. Jangan lebih dulu dariku.

Aku butuh mama dengan segala keangkuhanku. Maafkan aku.

 

Tulus

“Seorang bijaksana selalu mampu memaafkan siapapun yang menyakitinya, namun tak akan pernah melupakan apa yang telah mereka lakukan”, kata sebuah akun dakwah dengan hastag AADC

X : Memaafkan tapi tidak melupakan? Tidak ikhlas?

Y : Ikhlas, tapi tidak mungkin bisa lupa.

Masih percaya dengan ketidakmungkinan? Bagaimana dengan beberapa vonis dokter untuk seorang pengidap kanker yang hanya akan berumur 3 bulan lagi, tapi ternyata dapat hidup 3 tahun lebih? Bagaimana dengan orang buta yang menjadi penghafal Al-Quran?

Tentu jawabannya karena ada keyakinan terhadap Tuhannya untuk tiap-tiap kebaikan. Begitu pula dengan memaafkan, jika kita yakin bahwa Tuhan akan memperbaiki hidup dan hati kita, maka memaafkan akan bersanding dengan melupakan.

Pernah kita menyadari, bahwa yang membuat kesakitan pada hati kita adalah kita sendiri? karena kita tidak dapat melupakan. Contohnya, papasan – senyum – otak nginget – hati sakit – marah lagi. Begitu saja terus hingga hati akhirnya mati terbenam benci. Jangan mengulang kesalahan yang sama, dengan menjadi sama dengan orang yang (pernah) salah.

Tulus dan ikhlas lah saat meminta maaf,

Tulus dan ikhlas lah saat memberi maaf.