Pengingat yang Baik

Saya bukan seorang yang pendendam, hanya seorang pengingat yang baik.

Rata-rata pemarah akan berkata demikian, untuk menyakiti dirinya sendiri.

Yakin ingat taubat saat tinggal salat?

Yakin ingat minta maaf saat nyusahin orang tua?

Yakin ingat berterima kasih saat dibantuin sahabat?

Yakin ingat kalau diri sendiri tempatnya salah?

Jadi lah pemarah yang bijak, yang mengoreksi diri, bukan membenam benci.

Jadi lah pengingat yang baik, agar kita bersyukur.

Iklan

Periksa Hati

Jika saat ini kamu merasa iri melihat temanmu berteriak alhamdulillah karena naik jabatan, upload foto lagi liburan, share video bareng suami/istri dan anaknya, beli mobil baru ataupun s2 ke luar negeri, yang salah bukan temanmu. Apakah ia merugikan waktumu? Apakah ia menghabiskan tenagamu? Apakah ia menggunakan sepeser saja uangmu? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan berprasangka buruk soal niat temanmu. Kamu kira ia riya’, kamu anggap dia pencitraan.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai syukur.

Jika saat ini kamu merasa kecewa karena tidak ada yang memuji amalmu, tidak ada yang menghargai kebaikanmu, tidak ada yang mendengarkan nasihatmu yang menurutmu sudah benar. Jangan salahkan temanmu! Apakah mereka mencegahmu berbuat baik? Tidak, kan? Jangan menambah kotor hati dengan menyemai benih harapan pada balasan manusia.

Periksa hatimu, mungkin hatimu belum selesai memaknai ketulusan.

Jika kita pahami, bahwa kebanyakan-hampir-seluruhnya penyakit hati sumbernya adalah pada masalah diri yang belum menyelesaikan urusannya dengan ego pribadi. Yang darinya lahir sebuah dunia tak kasat mata, di dalamnya si aku menjadi sentral, yang harus diutamakan, yang harus diistimewakan dan yang harus didahulukan. Membuat diri seolah-olah kuat di luar, namun rapuh di dalam.

105

Ma, saat ini aku benar-benar bahagia, karena aku masih dapat melihat mama setelah bangunku yang kesiangan dan sebelum tidurku yang kemalaman. Aku tau pundak itu lelah, kaki itu rapuh dan hati itu pilu. Namun apa dayaku, ketika mama masih memanjakanku sehingga aku lupa ada waktu yang cepat atau lambat telah menunggu.

Ma, aku terlahir atas doamu. Aku tumbuh atas ridamu.

Maafkan aku. Jika aku lebih percaya bahwa uang sudah cukup membuat mama bahagia. Jika aku lebih berpikir jauh dari mama akan lebih meringankan beban. Jika aku lebih memilih untuk diam karena malu menyusahkan mama. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kecukupanku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kabarku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kesibukanku. Sedangkan mama, memilih untuk jauh lebih rumit memikirkanku dari pada bahagia.

Ma, jangan esok, jangan lusa, jangan pula tahun depan. Jangan lebih dulu dariku.

Aku butuh mama dengan segala keangkuhanku. Maafkan aku.

 

104

Teruntuk sahabatku,

bukan seperti Audi dan Nindy, aku tidak akan bernyanyi untukmu, karena suaraku tidak lebih merdu dari kucing yang beradu.

bukan seperti Nidji, aku tidak akan menggenggam tanganmu untuk menghadapi dunia, karena kita punya tujuan masing-masing.

Aku, akan seperti aku, menunggu sampai kamu mau hadir dan bercerita apapun padaku.

Aku, akan seperti aku, menunggu sampai kamu mau hadir dan minta menghapus air matamu.

Aku, akan seperti aku, menunggu sampai kamu mau hadir dan mengajak menyungging senyum di bibirmu.

Aku, akan seperti aku, menyimpan rindu sampai kau mau menyapaku.

 

Namanya Juga Gue

Gue ini, paling pinter kasi nasihat sama yang curhat. Bilang baiknya jangan gini, baiknya jangan gitu. Baiknya gini, baiknya gitu. Tapi paling susah nasihatin diri sendiri, sekalinya A tetap A, sekalinya B gak mau dapet A.

Gue ini, paling pandai ngomongin orang, dari atas sampai bawah detail banget dikoreksi. Tapi paling susah koreksi diri sendiri, dari penampilan sampai perlakuan.

Gue ini, paling jago hitung-hitungan, pernah berbuat gini, pernah berbuat gitu. Pernah ngasi ini, pernah ngasi itu. Tapi paling gak suka diperhitungkan, sekalinya diingetin kebaikan orang, bilang “cuma gitu doang”.

Gue ini, paling hobi bilang “sabar ya”, saat temen gue curhat. Tapi paling gak banget kalau dapat kata “sabar ya” ketika curhat, “kalo tanggepan lo sabar doang, gue gak curhat deh”.

Gue ini, paling pelupa, lupa bayar hutang, lupa nepatin janji dan lupa balas budi. Tapi paling inget sama janji orang, sama hutang orang dan sama apa-apa yang udah gue perbuat buat orang lain.

Gue ini, paling pembenci. Sekalinya orang buat kesalahan, gue benci mati-matian, lupain semua kebaikan yang pernah mereka buat. Tapi paling benci juga kalo dibenci sebegitunya sama orang lain, “dasar manusia, baru juga salah sekali udah sombong gak mau maafin dan negur lagi, gak inget sering dibantuin.”

Gue ini, paling plinplan. Hari ini baik, besok marah-marah, lusanya minta maaf. Tapi paling males kalau digituin, “dasar orang aneh, percuma maafin, besok juga gitu lagi”.

Gue ini, paling ngerepotin. Apa-apa curhat, apa-apa minta temenin, apa-apa minta tolongi. Tapi kadang bosen direpotin, “yee.. tu anak minta tolong mulu, curhat mulu. Udah ah, pura-pura gak tau.”

Yaaa namanya juga gue!

102

Mana mungkin aku punya kaki tidak pernah berlari ke kesalahan,

Mana mungkin aku punya tangan tidak pernah memegang kekhilafan,

Mana mungkin aku punya mata tidak pernah melirik ke kegelapan,

Mana mungkin aku punya mulut tidak pernah berucap kehinaan,

Mana mungkin aku punya hati tidak pernah memendam kedengkian.

Untuk itu, aku memohon maaf

Untuk itu, aku memohon maaf

Untuk itu, aku memohon maaf

Kepada siapapun,

Kepada yang dimanapun

dan kepada yang sedang bagaimanapun.

Aku paham, bahwa memaafkan setulusnya tidak semudah membenci sepuasnya

namun

Aku paham, bahwa manusia tidak dapat membenci secara sempurna, karena mereka tercipta bersamaan dengan hati.

* untuk yang pernah tersakiti. Mohon maaf dan ikhlas sepenuh hati.