Teman Baik

“Tok! Tok! Tok!”, pintu diketuk dengan keras dan gaduh.

Aku segera meninggalkan dapur, “iya, siapa?”, teriakku sambil berjalan ke arah pintu.

“Kreeek”, aku membuka pintu dan sedikit kaget, “Pak Madan? Ada apa, Pak?”

“Saya dapat kabar dari satpam komplek sebelah, kalau Rio, anak Ibu, tadi kecelakaan dan sekarang dibawa ke rumah sakit di dekat sini”.

Seperti tersambar petir, aku terpaku sejenak terkenang Rio yang izin membawa motor. Beberapa saat aku tersadar dan segera minta tolong Pak Madan untuk mengantar ke rumah sakit tujuan.

Aku berhenti di UGD, sedangkan Pak Madan mencari tempat parkir. Sesaat masuk, aku langsung dipanggil oleh Tama, anak yang menjemput Rio untuk bermain motor sore tadi.

“Tante, Rio di sini”, ucap Tama.

“Haaah..” aku baru bisa bernapas lega saat melihat kondisi Rio yang sebenarnya.

“Rio gak luka parah kok, Tante. Setelah obatnya datang, Rio juga sudah boleh pulang”, jelas Tama.

Sambil menunggu obatnya datang, aku mengurus biaya administrasi dan pengobatan Rio selama di UGD. Sesaat selanjutnya, obat pun datang. Aku memutuskan untuk segera membawa Rio pulang dengan taksi. Sedangkan motor Rio aku minta tolong pada Tama dan Pak Madan untuk membawanya pulang.

***

Sebelum tidur, ada obat oles yang perlu dipakai oleh Rio untuk mengeringkan luka-luka pada kaki dan tangannya.

Sambil mengoleskan obat, aku mengingatkan pada Rio, “lain kali cari temen jangan yang nakal. Temenan sama orang baik aja. Orang nakal gak perlu dideketin.”

Rio ngeyel, “memangnya kenapa, Ma? Tama gak jahat kok.”

“Dia yang setiap hari ngajakin kamu main motor kan? Dia pasti ngajakin kamu ngebut-ngebutan. Besok-besok dia bisa ngajakin kamu lebih nakal lagi.”

Rio menjawab lagi, “Ma, Tama gak nakal. Dia yang ngajarin Rio bisa ngebawa motor. Tadi sore itu cuma kecelakaan, yang salah Rio bukan Tama.”

“Pokoknya kamu harus jauh-jauhin temen kamu yang jahat, yang nakal dan bandel”.

“Hmm..”, Rio menghela napas keras, “memangnya kenapa sih, Ma? Kalau orang jahat, nakal dan bandel gak boleh temenan sama orang baik? Terus gimana caranya dia bisa jadi baik? Kita bisa tau salah dan benar, jahat dan baik, kan juga karena ada contohnya. Kalau orang baik cuma boleh berteman dengan orang baik, bagaimana dia bisa tau yang mana yang benar dan salah? Begitu juga dengan orang jahat, kalau dia cuma boleh berteman dengan orang jahat juga, kapan dia bisa paham apa yang dia lakukan itu salah?”

Aku tertegun dan menyimak perkataan Rio

“Terkadang bukan orang itu benar-benar baik, atau benar-benar jahat. Tapi karena dia merasa paling benar dan tidak ada contoh kebenarannya. Kalau begitu, tidak ada bedanya antara orang baik dan jahat. Semua hidup dalam perasaan yang tidak tau dan selalu benar. Lagian gak ada yang tau isi hati seseorang, selagi dia tidak secara terang-terangan menyakiti kita, apa salahnya kita tetap menerima kehadirannya dan bersikap baik? Dan bagaimana orang baik bisa lebih baik, jika orang yang lebih baik menganggapnya tidak baik? Begitu saja terus, sampai akhirnya benar-benar tidak ada orang yang dapat dikatakan baik. Katanya, gak semua orang baik itu baik, kadang ada maunya. Kalau begitu, sudah pasti gak semua orang jahat itu jahat, kadang mereka juga ada maunya, mau berubah lebih baik, mungkin.”

“Rio sudah mulai dewasa”, gumamku dalam hati. “Yasudah, tidurlah!”, aku mengusap kepala Rio dan berdoa semoga dia selalu menjadi anak baik dan di kelilingi orang-orang baik juga.

Iklan

105

Ma, saat ini aku benar-benar bahagia, karena aku masih dapat melihat mama setelah bangunku yang kesiangan dan sebelum tidurku yang kemalaman. Aku tau pundak itu lelah, kaki itu rapuh dan hati itu pilu. Namun apa dayaku, ketika mama masih memanjakanku sehingga aku lupa ada waktu yang cepat atau lambat telah menunggu.

Ma, aku terlahir atas doamu. Aku tumbuh atas ridamu.

Maafkan aku. Jika aku lebih percaya bahwa uang sudah cukup membuat mama bahagia. Jika aku lebih berpikir jauh dari mama akan lebih meringankan beban. Jika aku lebih memilih untuk diam karena malu menyusahkan mama. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kecukupanku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kabarku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kesibukanku. Sedangkan mama, memilih untuk jauh lebih rumit memikirkanku dari pada bahagia.

Ma, jangan esok, jangan lusa, jangan pula tahun depan. Jangan lebih dulu dariku.

Aku butuh mama dengan segala keangkuhanku. Maafkan aku.