Generasi Instan

Lillahita’ala memang gak serta merta membuat sesuatu menjadi mudah,

tapi sudah pasti menjadi berkah.

Katanya, saat ini kita hidup di zaman serba instan. Mie instan, bubur instan, sampe hubungan yang instan. Menyenangkan memang, untuk beberapa hal terasa sangat menguntungkan. Terutama bagi orang-orang yang mempunyai sedikit waktu, katanya. Padahal, semua orang sama-sama mengalami 24 jam dalam sehari.

Sekarang, mau ke sana kemari tinggal klik-klik hp lalu si Abang ojek atau Sopir online datang, tanpa harus nunggu di pinggiran jalan atau ngantri di loket-loket. Mau makan ini, mau makan itu tapi males keluar? tinggal klik-klik hp lalu makanan yang diinginkan pun datang. Menyenangkan, bukan? Hampir semua serba instan dengan adanya jaringan online. Makanya, kebanyakan orang-orang zaman sekarang lebih rumit ketinggalan hp dari pada ketinggalan salat. Katanya, kalo salat itu cuma urusan dia sama Tuhan, sedangkan hp urusannya bisa berakar-akar ke yang lain. Itu sih katanya.

Yang serba instan memang menyenangkan dan menguntungkan. Tapi gue khawatir, orang-orang zaman sekarang dan selanjutnya akan jadi generasi yang malas berdoa. Faktanya, untuk apa Lillahita’ala, sujud sepertiga malam, kalo datang ke Dimas Kanjeng aja apa-apa bisa langsung digandakan, katanya. Fenomena lainnya, kumpul aja sama si Guru Spiritual, gak perlu baca Quran, duduk-duduk sambil menikmati “asap nikmat” gunda gulana hilang seketika. Sering dengar, “cari yang haram aja susah, apalagi yang halal. Yang penting bisa hidup aja dulu. Berkah itu kerasa kalo udah kaya.” Mungkin ini yang namanya, pinter tapi keblinger.

Zaman instan membuat orang-orang jadi cepat pintar, tapi gak semua jadi benar. Karena ilmu yang didapat juga serba instan. Ngulik-ngulik hp buka akun (yang katanya) dakwah-yakin-share-sok benar. Jadi malas berdoa biar dapet hidayah. *uups

Zaman instan memang gak salah. Gak semua penikmat zaman instan jadi tergilincir dan jadi generasi yang malas berdoa. Masih banyak generasi instan yang jadi lebih baik dengan memanfaatkan produk instan. Lagi-lagi Allah minta kita berpikir, Iqro’!

Lillahita’ala aja dulu, berkah kemudian.

Berusaha-berdoa-berpasrah.

 

Iklan