Lagi-lagi Rindu

Aku pikir, siang cukup mempermainkan rinduku. Di keramaian, aku merasa sendiri. Namun ternyata, malam semakin menyudutkanku. Makin sunyi, rinduku makin bergemuruh.

Dulu, aku sangat memuji malam. Bersamanya rinduku terobati melalui pertemuan singkat di meja makan. Namun sekarang, aku geram pada malam. Saat terpejam, bahkan mimpi pun enggan menerkam.

Saat itu, aku merindukan malam. Dimana lelahku dan lelahnya hanya sekadar cerita, karena ia hanyut dalam dekap canda yang lekat. Namun saat ini, sepertinya malam merindukanku, sedang aku sibuk menyeka air mata yang turun deras bersama doa.

Ini tentang malam yang membersamai rindu teramat dalam, padamu, Yah.

 

Iklan

Dimengerti

Ada benarnya bahwa kita tidak perlu meminta dimengerti oleh orang lain. Kita dan mereka, sama-sama individu yang punya tingkah dan kepentingan berbeda. Setiap manusia akan memiliki sudut pandangnya sendiri dalam melihat orang lain. Pun mereka terhadap kita.

Tak perlu bersusah payah membuat mereka mengerti. Tak perlu meminta dipahami dengan membuang harga diri.

Sebab suatu hari, kita akan bertemu dengan orang-orang yang tanpa kita minta akan mencoba memahami. Orang-orang yang dengan senang hati berusaha mengerti. Meski tentu tak pernah sepenuhnya, tapi setidaknya mereka selalu berupaya.

Suatu hari kita akan bertemu dengan orang-orang yang selalu mempertanyakan perihal keadaan kita yang sebenarnya. Bukan sekedar apa yang dapat dilihat mata.

Tak perlu memaksa. Kadang, bahkan kita tak perlu mencari, sebab mereka datang sendiri.

Berhentilah meminta dimengerti. Berjalanlah dengan penuh harga diri.

 

Harus Dewasa

Menjadi tua itu pasti dan menjadi dewasa itu pilihan, katanya.

Kita pernah alay, kalau bohong ngumpet, kalau benar sombong.

Kita pernah alay, dari galau jadi benci, makin benci makin rindu, rindu rindu rindu jadi cinta, alasannya karena dia atau mereka sangat istimewa.

Kita pernah alay, niat banget nge-blok sana sini cuma biar keliatan gak peduli dan marah.

Kita pernah alay, curhat kanan – kiri, giliran kesebar bilangnya dia atau mereka jahat, padahal kita aja khilaf.

Menjadi tua itu harapan dan menjadi dewasa itu keharusan, kataku.

Jika menjadi tua itu pasti, bagaimana dengan bayi yang mati? Semua orang pasti berharap berumur panjang, walaupun tidak ingin menjadi tua, karena keriput dan tidak bertenaga. Semua orang pasti berharap berumur panjang, meskipun tidak telepas dari doa, “jangan Kau panjangkan umur ini jika hanya akan menjadikanku manusia yang sia-sia”, tentu harapan yang dimaksud adalah umur yang panjang lagi barokah. Setiap remaja yang beranjak besar pasti berencana, menikah sampai punya anak dan cucu yang soleh lagi solehah. Tentu lah bahwa tua itu adalah harapan.

Jika dewasa itu pilihan, wajar saja banyak orang gila, wajar saja banyak koruptor dan para pemberi harapan palsu. Ada situasi dan kondisi yang mereka pilih untuk tidak menjadi dewasa. Wajar, bukan?

Dewasa itu keharusan, dimana setiap orang tua mengajarkan teramat dini, bahwa seorang kakak bisa mengalah kepada adiknya dan seorang adik dapat menghormati kakaknya. Saling cinta, saling kasih mengasihi. Dewasa itu tidak dibentuk saat kita remaja, pencarian jati diri, katanya. Dewasa itu sudah diajarkan sejak kita dapat mendengar, kemudian melihat dan meraba. Pertambahan usia tidak lagi meminta kita belajar dewasa, tetapi mengharuskan kita untuk dapat lebih matang, memahami makna dewasa yang diajarkan sejak amat belia.

Dan di umur segini,

seharusnya bukan lagi menanam dendam yang mengimbangi kebencian,

seharusnya bukan lagi melarutkan benci yang diakibatkan kesalahan,

seharusnya bukan lagi meminta tapi memberi.

Tidak ada yang salah ketika amarah timbul seketika, yang salah adalah dengan tidak mengindahkan penjelasan, yang salah adalah dengan tidak memberi maaf dan merasa diri benar-benar berada di posisi yang benar.

untuk kita yang dewasa, bahwa masalah tetap punya masa, jadi lah masalah terbaik di masanya.

104

Teruntuk sahabatku,

bukan seperti Audi dan Nindy, aku tidak akan bernyanyi untukmu, karena suaraku tidak lebih merdu dari kucing yang beradu.

bukan seperti Nidji, aku tidak akan menggenggam tanganmu untuk menghadapi dunia, karena kita punya tujuan masing-masing.

Aku, akan seperti aku, menunggu sampai kamu mau hadir dan bercerita apapun padaku.

Aku, akan seperti aku, menunggu sampai kamu mau hadir dan minta menghapus air matamu.

Aku, akan seperti aku, menunggu sampai kamu mau hadir dan mengajak menyungging senyum di bibirmu.

Aku, akan seperti aku, menyimpan rindu sampai kau mau menyapaku.

 

Anak Tangga Ke-24

Jangan berlari terlalu kencang! Kakiku kan pendek.

Aku tidak mengerti apa maksudmu dengan mengajakku pergi sepagi ini. Langit masih sangat gelap, azan subuh pun belum berkumandang. Tidak masalah, karena pikirku kamu akan membawa mobil kesayanganmu dan aku dapat melanjutkan tidur selama perjalanan. Hari ini kamu aneh! tidak dengan mobil dan sepatu favoritmu, kamu datang dan menarikku berlari dengan kaki telanjang.

Aku menggerutu sepanjang jalan dan kamu tidak membantah apapun.

“Ada apa ini? kita mau kemana? aku cape!”

Bukannya berhenti sejenak dan menenangkanku, jemariku makin terasa sesak karena genggaman dan tarikan tanganmu. Kamu terus mengajakku berlari, tak peduli dengan sendal jepitku yang putus dan napasku yang terengah.

Tiba di suatu bangunan tinggi dan gelap, kamu mencoba menarik tanganku untuk mengajak masuk.

“Tidak! tempat ini menyeramkan. Aku takut terjadi apa-apa di dalam.”

Kali ini aku lebih beruntung, kamu menoleh-mengedipkan mata seolah meyakinkanku tidak ada hal buruk di dalam sana. Aku mengangguk.

Gedungnya sangat sesak, kamu langsung mengajakku naik. Setengah terengah, aku menaikki anak tangga – perlahan – menghitungnya, sambil tetap menggenggam tanganmu erat.

Ke-24. Aku mencoba memastikan lagi hitunganku, saat aku berpaling tanganku merenggang, jari-jemarinya tak lagi sesak kurasa. Iya, tangganya terputus di anak tangga ke-24. Kuangkat kepalaku pelan, kita tidak lagi bergenggaman, kamu sudah ada di tepian dan mencoba lompat meraih anak tangga yang kuperikirakan sebagai anak tangga ke-30. Gagal, kamu terjatuh jauh dan aku menelungkup mencarimu. Bukan tanganmu yang kudapatkan, tapi kecupan kecil ibu di keningku yang membangunkan.

Seraya memeluk, ibu berucap, “selamat pagi dan selamat ulang tahun, Nak. Semoga di umur ke-24 ini kamu dapat menanjaki hal-hal yang lebih baik”. Aku membalas pelukan ibu dan menatap bingkai fotomu yang berada tepat di dinding depan kasurku.

Hatiku bergumam, “terima kasih, Rico”.