Biasa Saja

Bertemanlah dengan siapapun, dengan perasaan yang tidak berlebihan, biarlah biasa-biasa saja. Jangan letakkan harapan terlalu besar, jangan jadi terlalu baik, jangan menabur budi terlalu banyak.

Suatu saat nanti, akan ada yang tidak sesuai harapanmu. Kecewa-terluka siapa yang peduli?

Manusia datang dan pergi. Silih dan mungkin takkan berganti.

Biasa saja lah. Jangan terlalu banyak berkorban, hal itu hanya menimbulkan pengharapan-pengharapan. Berbuat baiklah, seikhlas-ikhlasnya. Jangan karena inginkan ini itu suatu waktu nanti, sehingga korbankan semuanya hari ini.

Iklan

Teman Baik

“Tok! Tok! Tok!”, pintu diketuk dengan keras dan gaduh.

Aku segera meninggalkan dapur, “iya, siapa?”, teriakku sambil berjalan ke arah pintu.

“Kreeek”, aku membuka pintu dan sedikit kaget, “Pak Madan? Ada apa, Pak?”

“Saya dapat kabar dari satpam komplek sebelah, kalau Rio, anak Ibu, tadi kecelakaan dan sekarang dibawa ke rumah sakit di dekat sini”.

Seperti tersambar petir, aku terpaku sejenak terkenang Rio yang izin membawa motor. Beberapa saat aku tersadar dan segera minta tolong Pak Madan untuk mengantar ke rumah sakit tujuan.

Aku berhenti di UGD, sedangkan Pak Madan mencari tempat parkir. Sesaat masuk, aku langsung dipanggil oleh Tama, anak yang menjemput Rio untuk bermain motor sore tadi.

“Tante, Rio di sini”, ucap Tama.

“Haaah..” aku baru bisa bernapas lega saat melihat kondisi Rio yang sebenarnya.

“Rio gak luka parah kok, Tante. Setelah obatnya datang, Rio juga sudah boleh pulang”, jelas Tama.

Sambil menunggu obatnya datang, aku mengurus biaya administrasi dan pengobatan Rio selama di UGD. Sesaat selanjutnya, obat pun datang. Aku memutuskan untuk segera membawa Rio pulang dengan taksi. Sedangkan motor Rio aku minta tolong pada Tama dan Pak Madan untuk membawanya pulang.

***

Sebelum tidur, ada obat oles yang perlu dipakai oleh Rio untuk mengeringkan luka-luka pada kaki dan tangannya.

Sambil mengoleskan obat, aku mengingatkan pada Rio, “lain kali cari temen jangan yang nakal. Temenan sama orang baik aja. Orang nakal gak perlu dideketin.”

Rio ngeyel, “memangnya kenapa, Ma? Tama gak jahat kok.”

“Dia yang setiap hari ngajakin kamu main motor kan? Dia pasti ngajakin kamu ngebut-ngebutan. Besok-besok dia bisa ngajakin kamu lebih nakal lagi.”

Rio menjawab lagi, “Ma, Tama gak nakal. Dia yang ngajarin Rio bisa ngebawa motor. Tadi sore itu cuma kecelakaan, yang salah Rio bukan Tama.”

“Pokoknya kamu harus jauh-jauhin temen kamu yang jahat, yang nakal dan bandel”.

“Hmm..”, Rio menghela napas keras, “memangnya kenapa sih, Ma? Kalau orang jahat, nakal dan bandel gak boleh temenan sama orang baik? Terus gimana caranya dia bisa jadi baik? Kita bisa tau salah dan benar, jahat dan baik, kan juga karena ada contohnya. Kalau orang baik cuma boleh berteman dengan orang baik, bagaimana dia bisa tau yang mana yang benar dan salah? Begitu juga dengan orang jahat, kalau dia cuma boleh berteman dengan orang jahat juga, kapan dia bisa paham apa yang dia lakukan itu salah?”

Aku tertegun dan menyimak perkataan Rio

“Terkadang bukan orang itu benar-benar baik, atau benar-benar jahat. Tapi karena dia merasa paling benar dan tidak ada contoh kebenarannya. Kalau begitu, tidak ada bedanya antara orang baik dan jahat. Semua hidup dalam perasaan yang tidak tau dan selalu benar. Lagian gak ada yang tau isi hati seseorang, selagi dia tidak secara terang-terangan menyakiti kita, apa salahnya kita tetap menerima kehadirannya dan bersikap baik? Dan bagaimana orang baik bisa lebih baik, jika orang yang lebih baik menganggapnya tidak baik? Begitu saja terus, sampai akhirnya benar-benar tidak ada orang yang dapat dikatakan baik. Katanya, gak semua orang baik itu baik, kadang ada maunya. Kalau begitu, sudah pasti gak semua orang jahat itu jahat, kadang mereka juga ada maunya, mau berubah lebih baik, mungkin.”

“Rio sudah mulai dewasa”, gumamku dalam hati. “Yasudah, tidurlah!”, aku mengusap kepala Rio dan berdoa semoga dia selalu menjadi anak baik dan di kelilingi orang-orang baik juga.

Abaikan

Diabaikan? Sakit memang, entah diabaikan oleh teman (yang katanya) dekat, oleh atasan di kantor, oleh keluarga, pasangan ataupun oleh Allah karena merasa doa-doa kita tidak pernah terkabulkan. Lebih-lebih dalam kurun waktu yang cukup lama dan bukan karena alasan untuk membuat kejutan saja.

Tapi salah atau benar, perihal perasaan diabaikan, apakah benar kita yang diabaikan? atau bahkan kita yang mengabaikan mereka lebih dulu? Sehingga muncul perasaan diabaikan.

Pengabaian perihal ada namun tiada, perihal muncul namun ditenggelamkan, perihal nampak namun hanya sebagai bayangan.

Mulai rasa sakit di dada hingga ke pelupuk mata. Mulai tangis yang membasahi pipi hingga benci yang menjadi-jadi.

Tidak perlu memendam dendam atau sedih berkepanjangan saat merasa diabaikan, awali saja, agar kamu paham siapa yang sebenarnya mengabaikan dan diabaikan.

Sebagaimana menurut H.R. Bukhari, “Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila dia mengingat-Ku. Bila dia mengingat-Ku pada dirinya maka Aku mengingatnya pada diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku pada suatu kelompok maka Aku mengingatnya pada kelompok yang lebih baik dari mereka. Jika dia mendekat satu jengkal kepada-Ku maka Aku akan mendekat satu hasta kepadanya, jika dia mendekat satu hasta kepada-Ku Aku akan mendekat kepadanya satu depa”.

Terbawa Suasana

Tidak setiap perasaan baik untuk ditindaklanjuti, ada kalanya kita harus menahan diri, karena menurutinya bisa jadi merugikan orang lain. Hidup tidak untuk diri sendiri, kan?

Sulit memang, tidak hanya amarah, kadang saat jatuh cinta pun ingin ada yang perlu mengetahuinya. Entah dengan alasan untuk meminta pendapat atau pun sudah keterlaluan.

Marah tidak membuat kita bahagia, masing-masing hati akan terluka, sedang kemudian sangat sulit untuk diperbaiki seperti awalan. Begitu pula cinta, tidak melulu membuat suka, pada nyatanya cinta hanya awalan dari sebuah luka.

Tahan dulu, buat daftar perasaan mana yang perlu ditelusuri, karena ada marah dan cinta yang katanya, hanya “terbawa suasana” saja.