108

Kini takkan ku ulangi,

bukan tak sempat, namun terlanjur berkarat,

bagaimana mungkin kupaksakan, yang namanya besi sudah berkarat, terkena air pun ia rapuh,

bayangkan saja jika ku genggam, bisa-bisa menjadi abu,

begitu lah hatiku.

 

Aku tak ingin lagi,

bukan karena tak ada lagi, tapi sudah terlalu perih,

tiada mungkin kutindaklanjuti, semuanya sudah tercabik-cabik,

tinggal kau sentuh dan semuanya terkoyak,

begitu lah hatiku.

 

Biar saja begini,

aku sendiri bersedih.

Iklan

Lagi-lagi Rindu

Aku pikir, siang cukup mempermainkan rinduku. Di keramaian, aku merasa sendiri. Namun ternyata, malam semakin menyudutkanku. Makin sunyi, rinduku makin bergemuruh.

Dulu, aku sangat memuji malam. Bersamanya rinduku terobati melalui pertemuan singkat di meja makan. Namun sekarang, aku geram pada malam. Saat terpejam, bahkan mimpi pun enggan menerkam.

Saat itu, aku merindukan malam. Dimana lelahku dan lelahnya hanya sekadar cerita, karena ia hanyut dalam dekap canda yang lekat. Namun saat ini, sepertinya malam merindukanku, sedang aku sibuk menyeka air mata yang turun deras bersama doa.

Ini tentang malam yang membersamai rindu teramat dalam, padamu, Yah.

 

105

Ma, saat ini aku benar-benar bahagia, karena aku masih dapat melihat mama setelah bangunku yang kesiangan dan sebelum tidurku yang kemalaman. Aku tau pundak itu lelah, kaki itu rapuh dan hati itu pilu. Namun apa dayaku, ketika mama masih memanjakanku sehingga aku lupa ada waktu yang cepat atau lambat telah menunggu.

Ma, aku terlahir atas doamu. Aku tumbuh atas ridamu.

Maafkan aku. Jika aku lebih percaya bahwa uang sudah cukup membuat mama bahagia. Jika aku lebih berpikir jauh dari mama akan lebih meringankan beban. Jika aku lebih memilih untuk diam karena malu menyusahkan mama. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kecukupanku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kabarku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kesibukanku. Sedangkan mama, memilih untuk jauh lebih rumit memikirkanku dari pada bahagia.

Ma, jangan esok, jangan lusa, jangan pula tahun depan. Jangan lebih dulu dariku.

Aku butuh mama dengan segala keangkuhanku. Maafkan aku.