Terbawa Suasana

Tidak setiap perasaan baik untuk ditindaklanjuti, ada kalanya kita harus menahan diri, karena menurutinya bisa jadi merugikan orang lain. Hidup tidak untuk diri sendiri, kan?

Sulit memang, tidak hanya amarah, kadang saat jatuh cinta pun ingin ada yang perlu mengetahuinya. Entah dengan alasan untuk meminta pendapat atau pun sudah keterlaluan.

Marah tidak membuat kita bahagia, masing-masing hati akan terluka, sedang kemudian sangat sulit untuk diperbaiki seperti awalan. Begitu pula cinta, tidak melulu membuat suka, pada nyatanya cinta hanya awalan dari sebuah luka.

Tahan dulu, buat daftar perasaan mana yang perlu ditelusuri, karena ada marah dan cinta yang katanya, hanya “terbawa suasana” saja.

Iklan

“Kok gue gak?”

x : “dia pernah gak naik kelas, waktu SD. Sekarang kok bisa jadi pimpinan di perusahaan A.”

x : “dulu dia gendut banget, gak jauh beda sama rendaman bedcover. Sekarang seksi, bodinya udah kayak jembatan kelok sembilan.”

Si A kok bisa sukses. Si B kok bisa sukses. Kok gue gak?

Gue yakin, semua orang ingin sukses. Semua orang punya maksud sukses dan cara menjadi sukses masing-masing. Gak bisa selalu sama, gak harus disama-samain juga. Ada yang merasa cukup sukses sebagai guru yang mencetak murid-murid berprestasi. Ada yang merasa cukup sukses sebagai pedagang yang menjual barang dagangannya sedikit lebih murah dari lainnya, tapi bisa bikin ibu-ibu senang. Ada yang cukup merasa sukses memiliki motor Legenda dengan lampu sein bunyi “tiit.. tiit.. tiit..”. Ada yang cukup merasa sukses menjadi imam keluarga yang sakinah-mawaddah-warrahmah.

Fenomena yang gue lewati sebagai anak ’90an, sebagaimana umumnya, di umur-umur segini ada yanglagi  galau karena masih jadi pengangguran. Ada yang ribet karena belum dilamar-lamar. Sedangkan beberapa yang lain sudah ada yang gendong anak atau sudah jadi pengusaha dengan beberapa outlet.

“Kok mereka bisa enak, bisa sukses gitu? kok gue gak?”

Menurut gue, yang membedakan orang sukses dengan orang yang belum sukses itu bukan hanya perkara “kurang usaha”, bukan hanya perkara “kurang berdoa”. Tapi juga perkara kurang sabar.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dalam Q.S. Al Baqarah: 153, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Seringnya sebagai manusia kita hanya penting melihat dan menilai hasil dari orang lain. Tanpa sedikit mengulik proses sebelumnya. Siapa yang tau sesabar apa si seksi saat harus dibilang dan dilihat gendut? Siapa yang tau sesabar apa si pemilik perusahaan saat dagangannya gak laku bahkan bangkrut? Sedang kita sibuk bertanya dan mengeluh, “kok gue belum sukses? kok gue belum sesukses dia?”

Sukses itu kita yang tentuin. Apakah kita sudah cukup sabar dengan ketentuan-Nya?

Rumah “Kurcaci”

Menurut Wikipedia, kurcaci adalah salah satu camilan dari biji semangka, biji waluh, atau biji bunga matahari yang dikeringkan dan diasinkan. #candadeeng itu mah kuaci.

Hampir kebanyakan dari kita punya pemikiran yang sama saat mendengar atau membaca kata kurcaci. Si manusia kerdil  dalam mitologi Nordik. Yaaaakan?

Tapi “Kurcaci” di sini hanya istilah kok, karena “Kurcacinya” adalah keluarga gue sendiri.

Suatu waktu, sepasang suami istri ngebangun sebuah rumah RSSSSS (Rumah Sangat Sederhana Sampe Susah Selonjoran) #eetdah. Rumah tersebut dibangun dengan jarak antara lantai dan atap kurang lebih enam meter. Setelah beberapa waktu, akhirnya rumah tersebut selesai dan siap dihuni. Satu sampai lima tahun pertama, rumah dan lingkungan sekitarnya masih aman-aman saja. Di bagian samping kiri rumah ditanami beberapa pohon buah-buahan, jambu biji, jambu air, belimbing, cermin/ciremai, markisa, dan lainnya. Di bagian belakang dan samping kanan rumah, ada dua kolam kecil yang dibuat khusus untuk berenang. He’eh! kolam renangnya ikan dan bebek-bebek kesayangan si Bapak. Saat itu, lingkungan sekitar masih adem, nyaman dan aman. Mungkin karena penghuni dunia zaman dulu belum bandel-bandel banget ya.

Masuk lima tahun kedua, ada yang mulai gak beres. Lagi asik-asiknya tidur, pipi basah, dielap-basah lagi-elap lagi-basah lagi, eeh ternyata lantainya becek. Rumah mulai rembes, gak mampu lagi membendung perasaan yang selama ini terpendam. Pemilik rumah mulai ketar ketir, dari pada tidurnya keganggu sama rembesan hujan bareng air kolam si bebek. Pemilik rumah memutuskan untuk meninggikan lantai, yang ditambah tiga tingkat bata. Solusinya tepat, berjalan tujuh hingga delapan tahun kemudian, rumah bebas banjir. Lega dong..tidur bisa nyenyak gak bareng kotoran bebek yang merayap-rayap ke muka.

lima tahun-sepuluh tahun-delapan belas tahun. Masuk tahun ke-19 hingga saat ini, rumah tersebut sudah mengalami tiga kali peninggian, dengan jumlah tingkat bata lebih banyak dari sebelumnya. Dua kolam yang awalnya sengaja dibuat pun diputuskan untuk ditimbun hingga rata dengan lantai rumah.

Tapi solusi tersebut gak bertahan seumur hidup. Untuk pertama kalinya setelah hampir belasan tahun peninggian terakhir, rumah rembes lagi. Iya sih gak ada kotoran bebek lagi, tapi rembesnya bareng cacing yang menggeliat-liat kayak penonton alay di ujung jari-jari kaki.

Setelah mengalami 1..2..3..4..5..6..7anku sakinah bersamamu #eebuset. Hmm.. kurang lebih empat kali peninggian, jarak lantai dengan atap yang awalnya enam meter, sekarang sisa sekitar dua setengah meter. WHAT?! Dan, kalian kebayang gak gimana kalau rumah tersebut harus ditinggiin lagi? Apakah generasi seterusnya harus kawin sama kecambah biar keturunannya gak harus tinggi dan muat masuk ke rumah tersebut?

Untuk saat ini belum ada solusi lain untuk menghindari banjir, bertahan aja dulu sampe tim bedah rumah datang pura-pura ngagetin. Dan bersabar saat ada yang bilang, “rumahnya pendek ya, kayak rumah Kurcaci”.