Cape Jadi Baik

Jadi orang baik memang gak gampang. Mau ngomong aja mesti mikir gimana caranya biar gak nyakitin hati orang lain. Mau minta tolong, dibilang nyusahin, sekalinya mau nolongin, dibilang modus.

Jadi baik itu cape. Karena gak setiap kebaikan dibalas juga dengan kebaikan. Kayak kata pepatah, “air susu dibalas air tuba”. Mesti sabar-sabar. Mesti pengertian.

Beda cerita kalo mau jadi orang jahat, tinggal iseng, orang sebel, fix! “Lo jahat!”. Mau ngomong, suka-suka. Gak mau nolong, terserah.

Tapiii, imbalannya beda, Coy!

Menurut sabda Rasulullah Salallahu alayhi wassalam, dalam Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim,¬†“… dan jika ia mengerjakan (kebaikan) yang telah ia niatkan, maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan, sampai tujuh ratus kebaikan, hingga berlipat-lipat kebaikan …”

Wajar kalo jadi orang baik itu gak gampang dan cape. Karna Allah menjanjikan banyak kebaikan setelahnya. Walau kadang kebaikan yang kita lakukan gak serta merta terbalaskan, tapi pasti akan selalu ada hikmah di dalamnya.

Untuk kita yang (mungkin) saat ini (sedang) lelah jadi baik, karena;

  1. Ngutangin tapi gak dibayar, ditagih malah marah-marah,
  2. Sering nraktir, tapi gak pernah ditraktir,
  3. Minta maaf, tapi dicuekin,
  4. Ngajak balikan, tapi malah dipamerin foto mantan sama pacar barunya,
  5. Kerja teliti, dibilang lelet. Gesit-gesit, dibilang gak fokus,
  6. Bilang rindu, dibilang bullshit,
  7. Silaturahmi, dituduh modus, dan lainnya.

Siapin hati yang luas. Peribaratan orang baik dan jahat itu, antara orang waras dan gila. *Peribaratan nih yaa*. Jadi sebagai orang yang waras atau baik, kita pasti bisa berpikiran baik. Pikir aja, mungkin yang marah-marah itu lagi malu, jadi sebaiknya jangan ditagih terus, doain aja mereka banyak rezekinya. Mungkin yang lagi gak bisa nraktir, emang lagi ada sesuatu yang jadi prioritas, doain aja meereka diberi kelapangan. Mungkin yang lagi nyuekin, emang lagi sibuk, atau malah takut jadi mengungkit kisah lama, padahal sebenernya dia udah maafin, jadi maafin mereka lebih dulu sebelum minta maaf. Mungkin yang lagi pamer foto pacarnya, lagi ngarepin banget kamu cemburu dan berusaha untuk seriusin dia, doain aja dia dan kita dikasih yang terbaik. Mungkin yang bilang lelet atau gak fokus, lagi pengen banget kita jadi pegawai yang profesional, doain aja dia dilembutin hatinya. Mungkin yang bilang bullshit, diam-diam lagi pengen dihalalin, doain aja kita mampu lebih baik. Dan mungkin yang bilang modus, lagi cape, lagi butuh sendiri dan introspeksi, doain aja mereka sehat dan umur panjang, biar bisa silaturahmi di lain waktu.

Kalo udah kayak gitu, jadi baik itu gampang, kan?

 

Iklan

Ketuk Hati Fatia

Seperti tahun kemarin, malam ini di pesantren kami juga diadakan Nihai Show atau panggung gembira. Yang membuat beda, malam ini kami sebagai santri tingkat akhir yang harus menampilkan pertunjukannya.

Saat semua santri penampil bersiap-siap, aku melihat Fatia duduk saja di ujung tangga. Kucoba mendekatinya, “Fatia, kenapa belum siap-siap? Tinggal dua jam lagi dan kita harus tampil.”

“Aku malas, di sana ada Erika. Nanti saja, kalau dia sudah selesai dan keluar, aku akan ke sana dan bersiap-siap”, jawab Fatia kesal.

“Memangnya ada masalah apa kamu sama Erika? Selama hampir satu tahun ini aku perhatikan, kamu tidak pernah lagi ingin dekat bahkan hanya mendengar nama Erika. Selama muhadatsah, muhadhoroh dan kegiatan-kegiatan rutin lainnya, kamu selalu mencari kesempatan untuk menjauh saat ada Erika di dekatmu.”

Belum selesai aku berbicara, Fatia memotongnya, “aku tidak menyukainya”, bentak Fatia.

Aku bingung dengan sikap Fatia, namun saat aku berdiri dan hendak meninggalkan Fatia. Aku melihat Ummi Nazla. Ummi memintaku untuk duduk kembali mendekati Fatia.

“Maaf, tadi Ummi tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Boleh Ummi ikut bergabung?”

Aku hanya melirik pada Fatia, seolah memberi tanda bahwa Fatia lah yang berhak menjawabnya dan Fatia mengangguk.

Ummi Nazla memegang tangan kami berdua, “sebenarnya ada apa? tadi tidak sengaja Ummi mendengar kata “aku tidak menyukainya”, boleh Ummi tau siapa dan kenapa?”

Aku tidak mengambil sikap apapun, sampai setelah hening yang cukup panjang, Fatia menjawabnya, “saya tidak menyukai Erika, Ummi. Tapi maaf, Ummi, saya tidak bisa menyebutkan alasannya, karena saya pikir itu adalah salah satu aibnya.”

Ummi Nazla tersenyum, “iya, tidak perlu, jangan diceritakan jika memang itu yang terbaik. Tapi jika Ummi boleh tau, sejak kapan dan sampai kapan kamu bersikap seperti ini kepadanya?”

“Hampir satu tahun ini, Ummi dan saya pikir untuk selamanya.”

“Subhanallah”, dzikir Ummi. “Boleh Ummi menanggapi?”

“Iya, Ummi”, balas Fatia datar.

“Terlepas apapun yang telah dilakukan oleh Erika terhadapmu, kesal, jengkel dan kecewa itu memang tanggapan yang paling manusiawi. Tapi sampai kapan? Selamanya? Kamu pernah mendengar Hadist Riwayat Muslim yang mengatakan, “tidaklah halal bagi seorang muslim untuk meninggalkan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya juga saling bertemu, tetapi mereka tidak saling mengacuhkan satu sama lain. Yang paling baik di antara keduanya adalah yang lebih dulu memberi salam.” Tau itu?”

Kami mengangguk

Ummi melanjutkan pembicaraannya, “tidak ada keuntungan apapun dari menyimpan kesal, jengkel dan kecewa berkepanjangan selain rasa sakit. Ketika kita menyimpan keburukan untuk orang lain, ketika itu juga kita sedang melukai diri sendiri. Terkadang yang menyakitkan itu bukan karena kita disakiti, tapi karena kita menyakiti diri sendiri dengan merasa tersakiti. Apa kamu sudah mencoba membahas persoalannya dengan Erika?”

“Tidak perlu, Ummi”, ketus Fatia.

“Anakku, kamu pasti paham bahwa manusia adalah tempatnya salah, tempatnya khilaf. Mungkin persoalan yang kamu maksud, yang kamu besar-besarkan, tidak sama dengan yang dimaksud orang lain. Maka bermusyawarahlah, seperti yang diriwayatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “tidak satu kaum pun yang selalu melakukan musyawarah melainkan akan ditunjukkan jalan paling benar dalam perkara mereka”.”

“Dia tidak pernah meminta maaf, Ummi. Bagaimana lagi untuk membahasnya”.

Ummi tersenyum, “baiklah, anggap saja Erika memang bersalah. Namun bagaimana cara dia meminta maaf? jika kesempatan untuk berdekatan saja selalu dihindari. Mungkin saja selama ini, dia berusaha mencari kesempatan itu. Atau mungkin dia sedang mempersiapkan diri dan sesuatu untuk memohon maaf. Karena kita tau, memohon maaf itu tidak mudah, maka berilah maaf terlebih dahulu. Jika kamu sudah memaafkannya dengan ikhlas, hatimu pasti akan tenang dan dapat menerima kehadirannya lagi. Seperti dalam surah Al-Baqarah: 263, “perkataan yang baik dan pemberiaan maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun”. Ummi paham tentang anak-anak Ummi, kalian semua anak baik. Ummi tinggal dulu”.

Ummi Nazla pergi dan meninggalkan kami berdua, tiba-tiba saja Fatia berdiri dan menarik tanganku, “ayo kita bersiap-siap, tapi setelah itu, temani aku menemui Erika ya.”

Aku tersenyum mengangguk.

Teman Baik

“Tok! Tok! Tok!”, pintu diketuk dengan keras dan gaduh.

Aku segera meninggalkan dapur, “iya, siapa?”, teriakku sambil berjalan ke arah pintu.

“Kreeek”, aku membuka pintu dan sedikit kaget, “Pak Madan? Ada apa, Pak?”

“Saya dapat kabar dari satpam komplek sebelah, kalau Rio, anak Ibu, tadi kecelakaan dan sekarang dibawa ke rumah sakit di dekat sini”.

Seperti tersambar petir, aku terpaku sejenak terkenang Rio yang izin membawa motor. Beberapa saat aku tersadar dan segera minta tolong Pak Madan untuk mengantar ke rumah sakit tujuan.

Aku berhenti di UGD, sedangkan Pak Madan mencari tempat parkir. Sesaat masuk, aku langsung dipanggil oleh Tama, anak yang menjemput Rio untuk bermain motor sore tadi.

“Tante, Rio di sini”, ucap Tama.

“Haaah..” aku baru bisa bernapas lega saat melihat kondisi Rio yang sebenarnya.

“Rio gak luka parah kok, Tante. Setelah obatnya datang, Rio juga sudah boleh pulang”, jelas Tama.

Sambil menunggu obatnya datang, aku mengurus biaya administrasi dan pengobatan Rio selama di UGD. Sesaat selanjutnya, obat pun datang. Aku memutuskan untuk segera membawa Rio pulang dengan taksi. Sedangkan motor Rio aku minta tolong pada Tama dan Pak Madan untuk membawanya pulang.

***

Sebelum tidur, ada obat oles yang perlu dipakai oleh Rio untuk mengeringkan luka-luka pada kaki dan tangannya.

Sambil mengoleskan obat, aku mengingatkan pada Rio, “lain kali cari temen jangan yang nakal. Temenan sama orang baik aja. Orang nakal gak perlu dideketin.”

Rio ngeyel, “memangnya kenapa, Ma? Tama gak jahat kok.”

“Dia yang setiap hari ngajakin kamu main motor kan? Dia pasti ngajakin kamu ngebut-ngebutan. Besok-besok dia bisa ngajakin kamu lebih nakal lagi.”

Rio menjawab lagi, “Ma, Tama gak nakal. Dia yang ngajarin Rio bisa ngebawa motor. Tadi sore itu cuma kecelakaan, yang salah Rio bukan Tama.”

“Pokoknya kamu harus jauh-jauhin temen kamu yang jahat, yang nakal dan bandel”.

“Hmm..”, Rio menghela napas keras, “memangnya kenapa sih, Ma? Kalau orang jahat, nakal dan bandel gak boleh temenan sama orang baik? Terus gimana caranya dia bisa jadi baik? Kita bisa tau salah dan benar, jahat dan baik, kan juga karena ada contohnya. Kalau orang baik cuma boleh berteman dengan orang baik, bagaimana dia bisa tau yang mana yang benar dan salah? Begitu juga dengan orang jahat, kalau dia cuma boleh berteman dengan orang jahat juga, kapan dia bisa paham apa yang dia lakukan itu salah?”

Aku tertegun dan menyimak perkataan Rio

“Terkadang bukan orang itu benar-benar baik, atau benar-benar jahat. Tapi karena dia merasa paling benar dan tidak ada contoh kebenarannya. Kalau begitu, tidak ada bedanya antara orang baik dan jahat. Semua hidup dalam perasaan yang tidak tau dan selalu benar. Lagian gak ada yang tau isi hati seseorang, selagi dia tidak secara terang-terangan menyakiti kita, apa salahnya kita tetap menerima kehadirannya dan bersikap baik? Dan bagaimana orang baik bisa lebih baik, jika orang yang lebih baik menganggapnya tidak baik? Begitu saja terus, sampai akhirnya benar-benar tidak ada orang yang dapat dikatakan baik. Katanya, gak semua orang baik itu baik, kadang ada maunya. Kalau begitu, sudah pasti gak semua orang jahat itu jahat, kadang mereka juga ada maunya, mau berubah lebih baik, mungkin.”

“Rio sudah mulai dewasa”, gumamku dalam hati. “Yasudah, tidurlah!”, aku mengusap kepala Rio dan berdoa semoga dia selalu menjadi anak baik dan di kelilingi orang-orang baik juga.

Semua Karena Cinta

Dahulu kala, gue pernah survey beberapa orang untuk bertanya, apa yang dimaksud dengan sahabat?

Hampir semua menjawab dengan inti yang sama, “sahabat adalah orang yang selalu bersama kita saat suka maupun duka, saat bahagia maupun luka. Terbuka, jujur, tidak mudah tersinggung, dapat menerima kita apa adanya hingga ada apanya”.

Dan harapan itu sama dengan harapan gue dulunya. Iya, dulu. Sebelum umur setua ini, hmm mungkin lebih enak didengar sebelum berpikiran sedewasa ini.

Dulu, karena harapan dan anggapan tentang sahabat seperti yang dimaksud sebelumnya. Jadi kalo sahabat main sama orang lain, bete. Saat kita sedih, sahabat sibuk dengan aktifitasnya sendiri, kesel, sumpah serapah. Saat kita bahagia, tapi gak ada sahabat yang bisa diajak main bareng, males, endchat semua percakapan. Saat merasa ada yang ditutup-tutupi, nangis merasa gak ada yang bisa dipercaya lagi. Sampe saat ulang tahun gak diucapin tepat waktu dan dikasih kue, jungkir balik sebel, pas ketemu sok-sok gak peduli.

Muehehe.. ketauan dah alaynya gue.

Tapi makin tua, makin banyak makan asam garam sampe kena maag berkepanjangan. Gue paham, bahwa sahabat itu bukan terbentuk karena kesamaan visi dan misi, bukan karena kebetulan sama-sama, bukan karena satu hobi, bukan pula karena janjian buat nonton seagames bareng, bah! Tapi karena adanya cinta.

Percaya gak percaya, banyak yang satu visi misi tapi gak sahabatan. Banyak yang kebetulan sekelas atau satu kamar kosan, tapi gak sahabatan. Banyak yang satu hobi, ketemuan di kegiatan organisasi satu minggu sekali, tapi gak sahabatan. Bahkan ada yang bareng-bareng saat seagames tapi juga gak sahabatan (if you know what i mean). Karena apa? Karena gak ada cinta. Gak ada ikatan batin untuk saling menjaga atau saling berbagi.

Begitupun selanjutnya, sahabat gak harus selalu sama-sama. Makin dewasa, makin paham bahwa kita akan punya kesibukkan dan kepentingan masing-masing. Semakin gak pengen berbagi kesedihan, takut sahabatnya jadi ikut kepikiran. Semakin jaga jarak, biar paham yang namanya quality time saat ketemuan. Semakin gak nuntut apa-apa, cukup saling mendoakan yang terbaik saja. Begitu lah cinta.

Semakin dewasa, semakin paham. Cinta gak nuntut apa-apa. Termasuk cinta ke sahabat.

Jadi kalo sekarang lo ngerasa diabain sama sahabat lo, coba berpikiran positif, bahwa sahabat lo lagi cinta-cintanya sama lo. Gak pengen ganggu kesibukan lo, gak pengen bawa lo dalam kesedihannya, gak mau tau kabar buruk lo, bukan gak cinta tapi karena doanya selalu pengen lo dalam keadaan yang sehat dan sejahtera.

Uuunch

Perihal Hijrah

Kamu tekun menghafal Alquran beserta tafsirannya, sedang aku tidak. Aku tetap mendukungmu.

Kamu cantik dengan hijab syar’i atau tampan dengan jenggot yang rindang, sedang aku tidak. Aku tetap mendukungmu.

Kamu rutin mengikuti pengajian, sedang aku tidak. Aku tetap mendukungmu.

Kamu bahagia berkumpul dengan orang-orang saleh/salehah, sedang aku tidak. Aku tetap mendukungmu.

Aku sahabatmu. Soal prinsip, aku anggap itu komitmen antara hati dan logika di jiwa kita masing-masing. Aku mendukungmu, aku mendoakanmu dan aku pun ikut berharap bisa lebih baik pun seperti dan bersamamu. Tapi jika kamu memilih menutup diri dan mengkerdilkan tiap pendapatku. Memilih percaya pada kitab-kitab elektronikmu lalu meremehkan pandanganku. Memilih satu pihak dan menutup mata serta logika untuk lainnya. Ada baiknya, periksa dulu hatimu.

Perihal hijrah, adalah memperlajari, memahami, memaknai, dan ikut andil dalam hal-hal yang lebih baik, terbaik dan benar tentunya.

Perihal hijrah, adalah mengajak dan bermusyawarah. Bukan perihal saya benar-anda salah-lalu tinggalkan.

***

Narasi yang entah lah. Cukup miris saat sahabat/saudara menyatakan hijrah, tapi mengkerdilkan pendapat orang lain, mempercayai hanya satu sisi, mempelajari hanya satu sumber, menutup diri, merasa paling benar, tidak bermusyawarah/curhat, lalu berlalu dan meninggalkan.