Step by Step

Bila diri ingin berubah, berubahalah sedikit demi sedikit, tak perlu sekaligus.

Memang konsep berubah itu adalah keseluruhan, bukan perkataan saja, bukan pikiran saja, atau bukan penampilan saja. Tapi biarkan perlahan, sedikit demi sedikit, yang penting istiqamah.

Iman manusia itu naik-turun, tergantung seberapa perlu Ia dengan Rabbnya.

Takutnya, hari ini kita galau, lalu niat berubah, berhijab syar’i, salat lima waktu plus sunnah rawatibnya, puasa, mengaji, dan melakukan kegiatan positif lainnya. Esoknya demam, tertinggal lah satu per satu ibadahnya. Berkurang lagi imannya.

Seraya berubah, cari tau lagi ilmunya. Agar niat berubah tak hanya karna tren saja. Berubah lah hanya karena Allah, bukan agar segera dapatkan harta melimpah atau segera dipertemukan dengan laki-laki saleh.

Karena rezeki, jodoh dan maut adalah rahasia Allah dan merupakan ketentuan mutlak. Maka tugas kita hanya berpasrah saja. Ikuti alurnya.

Berubah lah hanya karena Allah. Harta halal, jodoh saleh, ilmu bermanfaat, dan teman-teman baik, itu adalah efek sampingnya.

 

 

Iklan

Jika…

Jika hari ini adalah hari terakhirku …

Bagaimana dengan ibadahku?

Sudah sempurna kah wudu ku? Bagaimana dengan air yang membasuh pergelangan tangan, mulut-hidung, muka, tangan, kepala-telinga, dan kaki ku? Sudah kah air tersebut mengalir dengan tepat? tepat pada batas-batasnya? atau hanya sekadar basah dan entah tau maknanya.

Sudah sempurna kah salat ku? Sudah sempurna kah rukun-rukun yang kujalankan? Bagaimana dengan makna dalam tiap bacaannya? Sudah kah aku paham? atau sekadar hafal? Lebih-lebih bagaimana dengan niatnya? Benarkah untuk tunduk, bersujud, memohon kepada Allah? atau sekadar melepaskan tanggung jawab?

Bagaimana pula dengan ilmu yang aku punya?

Sudah diamalkan dengan baik? Atau sekadar bersemayam dalam gelar yang tidak pula dibawa mati? Atau digunakan dengan kesombongan? Meraup harta atau tahta yang tak diridai Allah?

Ibu – Ayah ku?

Sudah kah aku mendoakan mereka dalam tiap sujud? Sudah kah aku membahagiakan mereka? atau sekadar tidak memberatkan mereka? Adakah aku teringat mereka dalam bahagia? atau hanya dalam tiap duka dan menyalahkan takdir yang menjadikan aku sebagai anak mereka? Sudah kah aku rutin salim tangan mereka tiap berangkat maupun pulang berkegiatan? atau sekadar bertanya kabar saat berjauh-jauhan?

Kepada Keluarga besar – Sahabat – Tetangga

Sudah kah aku bersikap toleran? atau hanya mementingkan ego sendiri? Sudah kah mendoakan mereka walau jarang bertemu? Bagaimana dengan hutang dan janji-janji? Sudah kah diangsur atau ditepati?

Jika hari ini adalah hari terakhirku …

Apa yang akan aku bawa?

amal salih atau membenamkan diri bersama seluruh harta benda yang mati-matian diperjuangkan selama hidup?

amal salih atau menguburkan diri beramai-ramai keluarga? Adakah yang mau?

amal salih atau ratusan sertifikat pendidikan dan dedikasi selama hidup yang tidak disertai rida Allah?

Apa yang akan aku tinggalkan?

amal salih atau hutang piutang?

amal salih atau dendam?

amal salih atau kebencian?

amal salih atau tidak ada sama sekali?

Jika hari ini adalah hari terakhirku …

Ilahii lastu lil fidausi ahlan, wa laa aq wa ‘alan naaril jahiimi

Fahab li taubatan wagh fir dzunuubi, faa innaka ghoofiruz dzambil ‘adziimi

 

 

“Kok gue gak?”

x : “dia pernah gak naik kelas, waktu SD. Sekarang kok bisa jadi pimpinan di perusahaan A.”

x : “dulu dia gendut banget, gak jauh beda sama rendaman bedcover. Sekarang seksi, bodinya udah kayak jembatan kelok sembilan.”

Si A kok bisa sukses. Si B kok bisa sukses. Kok gue gak?

Gue yakin, semua orang ingin sukses. Semua orang punya maksud sukses dan cara menjadi sukses masing-masing. Gak bisa selalu sama, gak harus disama-samain juga. Ada yang merasa cukup sukses sebagai guru yang mencetak murid-murid berprestasi. Ada yang merasa cukup sukses sebagai pedagang yang menjual barang dagangannya sedikit lebih murah dari lainnya, tapi bisa bikin ibu-ibu senang. Ada yang cukup merasa sukses memiliki motor Legenda dengan lampu sein bunyi “tiit.. tiit.. tiit..”. Ada yang cukup merasa sukses menjadi imam keluarga yang sakinah-mawaddah-warrahmah.

Fenomena yang gue lewati sebagai anak ’90an, sebagaimana umumnya, di umur-umur segini ada yanglagi  galau karena masih jadi pengangguran. Ada yang ribet karena belum dilamar-lamar. Sedangkan beberapa yang lain sudah ada yang gendong anak atau sudah jadi pengusaha dengan beberapa outlet.

“Kok mereka bisa enak, bisa sukses gitu? kok gue gak?”

Menurut gue, yang membedakan orang sukses dengan orang yang belum sukses itu bukan hanya perkara “kurang usaha”, bukan hanya perkara “kurang berdoa”. Tapi juga perkara kurang sabar.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dalam Q.S. Al Baqarah: 153, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Seringnya sebagai manusia kita hanya penting melihat dan menilai hasil dari orang lain. Tanpa sedikit mengulik proses sebelumnya. Siapa yang tau sesabar apa si seksi saat harus dibilang dan dilihat gendut? Siapa yang tau sesabar apa si pemilik perusahaan saat dagangannya gak laku bahkan bangkrut? Sedang kita sibuk bertanya dan mengeluh, “kok gue belum sukses? kok gue belum sesukses dia?”

Sukses itu kita yang tentuin. Apakah kita sudah cukup sabar dengan ketentuan-Nya?

29:45

Tentang Tuan dan Abdinya.

“Abu, kau sudah melayaniku selama bertahun-tahun. Hampir tiap detikku bersamamu. Kau yang menyiapkan makanku, menyusun perlengkapan perang ku, hingga mencuci kaos kaki ku yang bau. Aku tau kau kesepian karena sering jauh dari istrimu, tapi kau selalu menolak wanita-wanita yang sengaja ku bawakan untukmu. Aku tau kau kesedihan karena jauh dari anak-anakmu, tapi kau selalu menolak ajakanku menghabiskan malam di keramaian. Aku tau kau tidak suka saat aku mencacimu, tapi kau tidak pernah marah bahkan selalu tersenyum. Wahai Abu, maukah kau menceritakan padaku, apa rahasiamu untuk mencegah semua kebusukan itu?”

“Sungguh jika Tuan bertanya padaku tentang rahasiaku, aku tidak pernah merahasiakan apapun padamu, Tuan.”

“Lalu, apa yang membuat sikapmu berbeda denganku?

“Tentu saja sikapku berbeda dengan Tuan. Tuan adalah Tuanku, sedangkan aku hanya pelayanmu.”

“Baiklah. Ku ulang lagi pertanyaanku secara tegas. Jawablah sejujurnya, Abu. Bagaimana sikapmu bisa berbeda denganku?”

“Baiklah, Tuan. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar”.