Sepinya Menjadi Dewasa

Dewasa itu sepi, ya? Kita hanya akan sibuk dalam satu lingkaran. Jika saat ini sedang menjadi seorang pekerja, kita hanya akan dirumitkan oleh tugas-tugas kantor bersamaan dengan lemburnya. Jika saat ini kita sedang menjadi seorang ibu rumah tangga, kita hanya akan dirumitkan oleh tugas-tugas rumahan bersamaan dengan tagihan-tagihannya. Dan jika saat ini kita sedang menjadi seorang ibu-istri-pekerja, kita hanya akan dirumitkan oleh pekerjaan rumah yang dikerjakan di kantor dan pekerjaan kantor yang dikerjakan di rumah.

Beda. Beda kayak kita bocah dulu, dalam satu hari kita bisa melakukan banyak hal, belajar-bermain-berantem-temenan lagi. Dalam satu waktu kita bisa ada di tempat les, tiba-tiba ngacir ke tempat rental ps, nongkrong-nongkrong di tempat jajan, kalau kesorean baru dicariin.

Kalau masih bocah nongkrong sama orang tua bilangnya belajar, tapi kalau udah dewasa nongkrongnya sama bocah bilangnya gak sesuai. Makin dewasa makin sepi, kan? Kita akan bergaul dengan orang-orang di lingkaran yang berbatas usia dan pekerjaan.

Makin dewasa makin sepi. Ada masa dimana pandangan sudah tidak luas lagi. Ada masa dimana telinga sudah tidak awas lagi. Ada masa dimana kaki sudah tidak gagah lagi. Kemana-mana susah, apa-apa sulit. Makin dewasa makin sepi.

Iklan