Kerja Padat-Ibadah Giat

Sebab rezeki telah dijaminkan, maka makna kerja sebenarnya adalah pengabdian seutuhnya kepada Allah Subhanahu wata’ala

Ciee anak kantoran, yang gak bisa berpaling dari layar berwarna selebar talenan. Kerja memang pusing, ya? Jumlah kas masuk dan keluar gak seimbang, ngerepotin. Administrasi yang berantakan dan gak jelas kapan datangnya, ngeribetin. Apalagi saat atasan ngajak rapat sedangkan pacar sibuk nanya, “lagi apa? kok chat aku dibaca aja? kok gak dibales sih? udah deh, putus!” Jleeeb ah!

Beda lagi cerita anak wiraswasta, yang tokonya udah diketok dari subuh, handphonenya berdering tiap waktu. Pelanggan banyak nanya, nyusahin. Pelanggan minta diskon, malesin. Pelanggan banyak nanya, minta diskon dan gak jadi beli, ngedongkolin!

Segitunya pekerjaan mewarnai hidup kita, ya? Kadang makan jadi telat, cuma karna kerjaan padat, eh si laptop ngadat. Kadang pasangan dikacangin, karna ada meeting, yang kitanya cuma jadi pemeran pendamping. Dan gak jarang ibadah pun dilalain, cuma karna kerjaan yang belum kelar, dan atasan lagi ngawasin.

Nah, ini dia nih yang bahaya. Kadang kita lebih takut sama atasan ketimbang sama Yang Maha Tinggi. Lebih takut gak digaji, padahal katanya percaya sama Yang Maha Pengasih. Lebih takut kerja gak maksimal, gak dapet promosi, ibadah dinanti-nanti, kan yang penting hati, katanya.

Padahal, sebelum kerja, berdoanya sama Allah, kenapa udah kerja, takutnya sama Bos?

Sebelum kerja, ngeluh-ngeluh pengen kerja. Dikasi kerjaan, bukannya maksimalin ibadah, malah bilang, “nantilah, masih cape banget”. Harus banget kah, Allah teriak-teriak di telinga kita, “kalo napas lu, Gue entar-entar, gimana?

Nah, loh!

Profesional itu penting, dalam urusan kerja, lebih-lebih soal ibadah. Semakin dikasih banyak kerjaan, semakin banyak sujud, berterima kasih dan memohon perlindungan.

Semoga kita senantiasa menjadi pekerja yang menghambakan diri kepada Allah, ya.

 

Iklan

“Kok gue gak?”

x : “dia pernah gak naik kelas, waktu SD. Sekarang kok bisa jadi pimpinan di perusahaan A.”

x : “dulu dia gendut banget, gak jauh beda sama rendaman bedcover. Sekarang seksi, bodinya udah kayak jembatan kelok sembilan.”

Si A kok bisa sukses. Si B kok bisa sukses. Kok gue gak?

Gue yakin, semua orang ingin sukses. Semua orang punya maksud sukses dan cara menjadi sukses masing-masing. Gak bisa selalu sama, gak harus disama-samain juga. Ada yang merasa cukup sukses sebagai guru yang mencetak murid-murid berprestasi. Ada yang merasa cukup sukses sebagai pedagang yang menjual barang dagangannya sedikit lebih murah dari lainnya, tapi bisa bikin ibu-ibu senang. Ada yang cukup merasa sukses memiliki motor Legenda dengan lampu sein bunyi “tiit.. tiit.. tiit..”. Ada yang cukup merasa sukses menjadi imam keluarga yang sakinah-mawaddah-warrahmah.

Fenomena yang gue lewati sebagai anak ’90an, sebagaimana umumnya, di umur-umur segini ada yanglagi  galau karena masih jadi pengangguran. Ada yang ribet karena belum dilamar-lamar. Sedangkan beberapa yang lain sudah ada yang gendong anak atau sudah jadi pengusaha dengan beberapa outlet.

“Kok mereka bisa enak, bisa sukses gitu? kok gue gak?”

Menurut gue, yang membedakan orang sukses dengan orang yang belum sukses itu bukan hanya perkara “kurang usaha”, bukan hanya perkara “kurang berdoa”. Tapi juga perkara kurang sabar.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dalam Q.S. Al Baqarah: 153, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Seringnya sebagai manusia kita hanya penting melihat dan menilai hasil dari orang lain. Tanpa sedikit mengulik proses sebelumnya. Siapa yang tau sesabar apa si seksi saat harus dibilang dan dilihat gendut? Siapa yang tau sesabar apa si pemilik perusahaan saat dagangannya gak laku bahkan bangkrut? Sedang kita sibuk bertanya dan mengeluh, “kok gue belum sukses? kok gue belum sesukses dia?”

Sukses itu kita yang tentuin. Apakah kita sudah cukup sabar dengan ketentuan-Nya?