Kawatir Sedekah

Seringkali kita kawatir sedekah.

Takut pemberian kita jatuh ke tangan yang salah. Risau kekurangan setelah disedekahkan. Bimbang sedekah kita disalahgunakan.

Dan pada akhirnya niat kita kandas, hanya karna pemikiran kita yang terbatas.

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 268)

Iklan

105

Ma, saat ini aku benar-benar bahagia, karena aku masih dapat melihat mama setelah bangunku yang kesiangan dan sebelum tidurku yang kemalaman. Aku tau pundak itu lelah, kaki itu rapuh dan hati itu pilu. Namun apa dayaku, ketika mama masih memanjakanku sehingga aku lupa ada waktu yang cepat atau lambat telah menunggu.

Ma, aku terlahir atas doamu. Aku tumbuh atas ridamu.

Maafkan aku. Jika aku lebih percaya bahwa uang sudah cukup membuat mama bahagia. Jika aku lebih berpikir jauh dari mama akan lebih meringankan beban. Jika aku lebih memilih untuk diam karena malu menyusahkan mama. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kecukupanku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kabarku. Sedangkan mama, tiap hari menanyakan kesibukanku. Sedangkan mama, memilih untuk jauh lebih rumit memikirkanku dari pada bahagia.

Ma, jangan esok, jangan lusa, jangan pula tahun depan. Jangan lebih dulu dariku.

Aku butuh mama dengan segala keangkuhanku. Maafkan aku.

 

Mengais Waktu

“Tak lekang oleh waktu”, begitu rupanya yang pernah kuungkapkan padanya, yang padanya mata terpaku tak mampu lagi melirik, yang padanya hati terhujam tak mampu lagi memilih. Bersamanya aku bahagia, terus bahagia dan selalu bahagia, hanya mungkin rindu yang terkadang membuat risih, sisanya aku merasa luar biasa.

***

Kusebut dia sebagai cita-cita, istimewanya adalah impian. Posisi yang menjadi obsesi, “aku bangga”, teriakku.

***

“… Ingin ini ingin itu banyak sekali, semua.. semua.. semua.. dapat dilakukan …”, penggalan lagu kartun ini menggambarkan bahwa aku bisa mewujudkan apapun yang aku inginkan, terkadang yang tak ku pinta punĀ  kudapatkan, “aku kaya”.

Cinta, harta dan jabatan, siapa yang tak inginkan? Aku sempurna, bukan?

***

Aku tidak pernah sempit, aku tidak pernah sendirian dan aku tidak pernah gelap. Dulu. Saat berada di dunia maya, di dunia yang tidak seutuhnya nyata, di dunia yang nyatanya adalah sementara. Aku tenggelam, terbenam lebih tepatnya. Jangankan berlari, berteriak pun sudah tak mampu. Semuanya kaku. Perjalanan panjang membawaku melihat cahaya, berkilau-kilau, menyilaukan. Berteriak mereka, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikan lah kami ke dunia)”, begitu teriak para kafir yang kekal di dalamnya.

Menakutkan, berteriak dan menangis aku ketika tau itu adalah neraka. Kufur sebabnya, sombong jalannya dan lupa adalah pintunya. Jangankan masuk, melihat, bahkan membayangkannya pun aku tak mampu. Sungguh aku butuh waktu.