Pengingat yang Baik

Saya bukan seorang yang pendendam, hanya seorang pengingat yang baik.

Rata-rata pemarah akan berkata demikian, untuk menyakiti dirinya sendiri.

Yakin ingat taubat saat tinggal salat?

Yakin ingat minta maaf saat nyusahin orang tua?

Yakin ingat berterima kasih saat dibantuin sahabat?

Yakin ingat kalau diri sendiri tempatnya salah?

Jadi lah pemarah yang bijak, yang mengoreksi diri, bukan membenam benci.

Jadi lah pengingat yang baik, agar kita bersyukur.

Iklan

Tulus

“Seorang bijaksana selalu mampu memaafkan siapapun yang menyakitinya, namun tak akan pernah melupakan apa yang telah mereka lakukan”, kata sebuah akun dakwah dengan hastag AADC

X : Memaafkan tapi tidak melupakan? Tidak ikhlas?

Y : Ikhlas, tapi tidak mungkin bisa lupa.

Masih percaya dengan ketidakmungkinan? Bagaimana dengan beberapa vonis dokter untuk seorang pengidap kanker yang hanya akan berumur 3 bulan lagi, tapi ternyata dapat hidup 3 tahun lebih? Bagaimana dengan orang buta yang menjadi penghafal Al-Quran?

Tentu jawabannya karena ada keyakinan terhadap Tuhannya untuk tiap-tiap kebaikan. Begitu pula dengan memaafkan, jika kita yakin bahwa Tuhan akan memperbaiki hidup dan hati kita, maka memaafkan akan bersanding dengan melupakan.

Pernah kita menyadari, bahwa yang membuat kesakitan pada hati kita adalah kita sendiri? karena kita tidak dapat melupakan. Contohnya, papasan – senyum – otak nginget – hati sakit – marah lagi. Begitu saja terus hingga hati akhirnya mati terbenam benci. Jangan mengulang kesalahan yang sama, dengan menjadi sama dengan orang yang (pernah) salah.

Tulus dan ikhlas lah saat meminta maaf,

Tulus dan ikhlas lah saat memberi maaf.